Media Kampung, Jakarta – Sebanyak 81 delegasi negara-negara Afrika Tengah, termasuk Kamerun, datang ke Indonesia untuk menjajaki peluang kerja sama perdagangan, investasi, dan teknologi dalam rangka Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu yang tercatat sekitar 30 delegasi.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kamerun, Agung Cahaya Sumirat, mengatakan kawasan Afrika Tengah memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama di sektor pertanian, peternakan, energi, konstruksi, dan ekonomi kreatif. Menurut dia, Indonesia dapat berkontribusi melalui pengembangan teknologi dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam di kawasan tersebut. “Secara kemampuan teknologi, saya percaya bahwa Indonesia bisa memberikan added value yang luar biasa bagi wilayah Afrika Tengah,” kata Agung dalam media gathering KBRI Yaound di Jakarta.
Melalui partisipasi delegasi dalam TEI 2026, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan volume perdagangan dan investasi sekaligus memperkuat diplomasi ekonomi dengan Kamerun dan negara-negara Afrika Tengah lainnya. Agung mengatakan, rangkaian kunjungan delegasi pada 12-25 Oktober 2026 tidak hanya berfokus pada pameran perdagangan. KBRI Yaound juga memfasilitasi pertemuan bisnis, penjajakan kerja sama antardaerah, kunjungan ke pusat pengembangan teknologi dan UMKM, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi.
“Selain itu, kami juga menjajaki berbagai kerja sama lain antara lain di sektor pendidikan maupun di sektor sosial budaya, maupun di sektor riset dan teknologi,” ujarnya. Salah satu agenda utama ialah The 2nd Indonesia-Cameroon Business Forum yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (16/10). Forum tersebut akan mempertemukan pelaku usaha kedua negara untuk membahas peluang perdagangan, investasi, dan kemitraan bisnis, termasuk kemungkinan penandatanganan sejumlah nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).
Agung berharap forum tahun ini menghasilkan nilai kerja sama yang lebih besar dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pada TEI 2025, kerja sama yang dijajaki dengan mitra dari Kamerun dan kawasan sekitarnya mencatat potensi transaksi senilai USD 19,5 juta. Kerja sama tersebut mencakup pengolahan singkong, pembangunan pembangkit listrik biogas, akuakultur, produk pertanian, hingga layanan spa.
Salah satu rencana tindak lanjut yang disoroti Agung adalah pembangunan pabrik pengolahan singkong menjadi tepung tapioka atau pati di Kamerun, yang akan memanfaatkan keahlian, teknologi, dan sumber daya manusia Indonesia. “Sebagai dampak hasil dari MoU yang tahun lalu, berbagai perusahaan Indonesia sudah mulai datang ke Kamerun. Dan yang paling besar rencananya adalah membangun pabrik tepung tapioka dan biogas di Kamerun, yang akan menggunakan keahlian Indonesia, menggunakan bahan dari Indonesia, menggunakan SDM dari Indonesia,” jelas Agung.
Menurut Agung, singkong merupakan salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat Kamerun. Pengolahan komoditas tersebut menjadi tapioka dapat meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus membuka peluang bagi Kamerun untuk memasok produk olahan ke pasar negara lain. “Dan saya yakin this is a win-win solution, karena produksi singkong Kamerun luar biasa banyak. Saya yakin jika pabrik dari Indonesia itu bisa berdiri, Kamerun akan punya kemampuan untuk eksportasi ke banyak negara lain,” tegas dia.
Selain sektor pengolahan singkong, kerja sama tahun lalu juga mencakup rencana pembangunan pembangkit listrik biogas modular berkapasitas 1,5 megawatt di Chad dengan nilai USD 3,2 juta. Agung menilai, potensi kerja sama tersebut perlu dikembangkan melalui keterlibatan lebih banyak pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan perguruan tinggi di Indonesia.
Karena itu, delegasi Kamerun juga dijadwalkan mengunjungi Tangerang Selatan, Bondowoso, dan Probolinggo untuk menjajaki kolaborasi di bidang ekonomi, pertanian, perkebunan, teknologi, serta pembangunan daerah. Di bidang pendidikan dan riset, rangkaian kunjungan akan melibatkan lima perguruan tinggi di Indonesia, yakni Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Nurul Jadid, Universitas Pancasila, dan Universitas Pertamina. Bentuk kerja sama yang dijajaki antara lain kuliah umum, riset bersama, webinar, dan kolaborasi antarkampus.
Menurut Agung, keterlibatan pemerintah daerah, dunia usaha, dan perguruan tinggi menjadi bagian dari upaya memperkuat kehadiran Indonesia di Afrika Tengah. Ia menilai potensi hubungan kedua pihak perlu dikembangkan melalui kerja sama yang lebih luas dan berkelanjutan. “Jadi kurang lebih orkestrasi atau desain atau build up diplomasi yang kami dorong seperti ini, memanfaatkan Trade Expo Indonesia,” kata Agung.













