Media Kampung, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.093,759 pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya IHSG mengalami penurunan yang cukup signifikan pada Kamis, 8 Oktober 2026, di mana IHSG melemah 1,88 persen ke level 6.031,28.
Menurut Senior Technical Analyst dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, penguatan IHSG ini dapat dilihat sebagai technical rebound atau pemulihan sementara. Meskipun ada peluang untuk melanjutkan penguatan, pergerakan indeks masih dibayangi oleh berbagai risiko yang ada baik dari dalam maupun luar negeri.
Nafan menjelaskan bahwa koreksi sebelumnya membuka peluang bagi investor untuk melakukan ‘buy on weakness’, yaitu strategi membeli saham ketika harga sedang melemah, terutama pada emiten yang memiliki prospek fundamental yang baik dan valuasi menarik.
Namun, Nafan menegaskan bahwa penguatan ini belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren menuju penguatan yang berkelanjutan. IHSG masih perlu didukung oleh arus beli yang konsisten, peningkatan volume transaksi, serta kemampuan indeks untuk bertahan di atas level support terdekat.
Pelaku pasar juga diharapkan untuk mencermati sejumlah faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG, seperti kebijakan suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan harga minyak dunia yang dipengaruhi ketidakpastian geopolitik.
Dari dalam negeri, perkembangan daya beli masyarakat dan data penjualan ritel juga menjadi perhatian penting karena dapat mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi serta kinerja emiten. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, juga memprediksi bahwa IHSG masih berpotensi untuk menguat di awal pekan depan, meskipun kenaikannya akan cenderung terbatas.
Ibrahim menambahkan bahwa salah satu faktor pendorong pasar saham adalah defisit anggaran pemerintah pada September 2026 yang masih sesuai dengan ekspektasi, meskipun mengalami kenaikan. Meskipun indeks keyakinan konsumen menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, Ibrahim meyakini bahwa fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup kuat.
Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah dunia dapat mendorong harga berbagai kebutuhan di dalam negeri serta meningkatkan tekanan inflasi. Ibrahim juga mencatat bahwa nilai tukar rupiah berpotensi bergerak melemah, meskipun IHSG mungkin akan menguat, namun penguatannya akan terbatas.
Dengan proyeksi penguatan IHSG yang ada, Ibrahim juga mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik masih perlu diwaspadai, karena dapat mempengaruhi pergerakan pasar keuangan di hari-hari mendatang.














