Media Kampung – 11 April 2026 | Prajogo Pangestu kembali menempati posisi orang terkaya di Indonesia pada April 2026 dengan kekayaan diperkirakan US$28,6 miliar atau sekitar Rp 450 triliun.

Angka tersebut menempatkannya pada peringkat ke-81 secara global, dengan sumber utama berasal dari sektor petrokimia dan energi.

Ia lahir pada 13 Mei 1944 di Bengkayang, Kalimantan Barat, anak seorang pedagang karet keturunan Hakka, dan menempuh pendidikan di sekolah Tionghoa sebelum pindah ke Jakarta pada 1965.

Karier bisnisnya dimulai pada akhir 1970-an ketika bergabung dengan Djajanti Group, kemudian menjadi General Manager PT Nusantara pada 1976.

Prajogo mendirikan Barito Pacific Timber pada akhir 1970-an, perusahaan tersebut melantai di Bursa Efek Jakarta melalui IPO pada 1993.

Seiring pertumbuhan, perusahaan mengurangi fokus pada kehutanan dan pada 2007 diubah nama menjadi Barito Pacific untuk mencerminkan diversifikasi ke petrokimia, energi, dan sumber daya alam lainnya.

Langkah strategis penting terjadi pada 2007 ketika Barito Pacific mengakuisisi 70% saham Chandra Asri, produsen petrokimia terbesar di Indonesia.

Pada 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia, menciptakan entitas petrokimia terintegrasi, dan pada saat yang sama Thaioil dari Thailand memperoleh 15% saham perusahaan tersebut.

Barito Pacific juga memperluas portofolio energi dengan mengendalikan aset panas bumi Wayang Windu, Salak, dan Darajat, serta menguasai Star Energy melalui Barito Renewables Energy.

Melalui entitas berbasis Singapura, Green Era, keluarga Pangestu membeli 33,33% saham Star Energy dari BCPG Thailand senilai US$440 juta pada 2022, memperkuat kepemilikan atas energi terbarukan.

Chandra Daya Investasi, anak perusahaan Chandra Asri, direncanakan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2025, menambah kehadiran grup di pasar modal.

Pada 9 April 2026, Forbes Real Time Billionaires List mencatat kekayaan Prajogo sebesar Rp 394 triliun (US$23,1 miliar), mengungguli Budi Hartono dan Low Tuck Kwong.

Sementara Bloomberg Billionaires Index pada 10 April 2026 menilai nilai bersihnya US$27,4 miliar atau Rp 468 triliun, menegaskan posisinya di atas Sukanto Tanoto.

Saat ini ia menjabat sebagai Komisaris Utama Barito Pacific dan pernah menjadi anggota Dewan Komisaris Astra International, Presiden Komisaris Tri Polyta, serta Direktur Utama Chandra Asri.

Strategi bisnisnya menekankan integrasi vertikal, mulai dari ekstraksi sumber daya hingga proses petrokimia downstream, sekaligus menambah portofolio energi terbarukan sejalan dengan transisi energi nasional.

Para analis menilai pertumbuhan kekayaannya didorong oleh meningkatnya permintaan petrokimia domestik, stabilitas produksi panas bumi, dan kemitraan strategis dengan investor asing.

Meskipun memiliki pengaruh luas, Prajogo tetap bersikap rendah hati dan jarang memberikan wawancara, fokus pada penciptaan nilai jangka panjang daripada sorotan media.

Dengan nilai kekayaan yang terus menguat, ia mengukuhkan posisi sebagai individu terkaya di Indonesia, menandai pergeseran dari konglomerat tradisional ke perusahaan berbasis sumber daya alam.

Perjalanan dari usaha kayu kecil menjadi grup energi dan petrokimia multi‑miliar dolar menunjukkan dinamika serta potensi pertumbuhan korporasi Indonesia di era modern.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.