Media Kampung – 04 April 2026 | Unilever resmi mengumumkan rencana penggabungan divisi makanan dengan produsen bumbu asal Amerika Serikat, McCormick & Company, dalam sebuah transaksi bernilai sekitar 65 miliar dolar AS. Kesepakatan ini ditargetkan menghasilkan perusahaan baru dengan pendapatan tahunan sekitar 20 miliar dolar.

Transaksi menggunakan mekanisme Reverse Morris Trust untuk mengoptimalkan beban pajak di AS; Unilever akan menerima pembayaran tunai sebesar 15,7 miliar dolar dan memegang 65 persen saham perusahaan gabungan, sedangkan pemegang saham McCormick akan menguasai sisanya 35 persen.

Merek-merek terkenal seperti Mayones Hellmann’s, kaldu Knorr, saus Chili Cholula, dan mustard Maille akan berada di bawah manajemen baru, dengan kantor pusat utama di Maryland, Amerika Serikat, dan pusat riset kedua di Belanda.

Kesepakatan tidak mencakup unit bisnis Unilever di India, Nepal, dan Portugal, dan diperkirakan selesai pada pertengahan 2027 setelah proses persetujuan regulator selesai.

CEO Unilever, Fernando Fernandez, menegaskan bahwa merger ini memungkinkan grup untuk lebih fokus pada segmen kecantikan, kesehatan, dan perawatan pribadi, sekaligus memperkuat posisi di pasar makanan global.

Sementara itu, CEO McCormick, Brendan Foley, menyatakan bahwa sinergi inovasi dan jaringan penjualan global kedua perusahaan akan mempercepat pertumbuhan dan menciptakan nilai bagi pemegang saham.

Meskipun prospek sinergi dipandang positif, saham Unilever turun sekitar 7 persen pada sesi perdagangan setelah pengumuman, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap implikasi biaya restrukturisasi.

Dewan Pekerja Eropa Unilever (UEWC), yang mewakili sekitar 20 ribu karyawan di Eropa dan Inggris, mengancam aksi mogok massal karena khawatir proses penggabungan akan memicu pemutusan hubungan kerja secara luas.

Serikat pekerja menyoroti target penghematan biaya sebesar 600 juta dolar dalam tiga tahun pertama, yang menurut mereka dapat mendorong pemotongan staf di pabrik maupun fungsi administratif.

Seorang juru bicara UEWC menyatakan bahwa karyawan merasa tidak aman tentang masa depan mereka dan menuntut jaminan tertulis yang melindungi posisi kerja selama dan setelah proses integrasi.

Jika Unilever tidak memberikan kepastian tersebut, union memperkirakan aksi perundingan keras hingga mogok di pabrik-pabrik utama, yang dapat mengganggu pasokan produk makanan di pasar Eropa.

Penggabungan ini mencerminkan tren konsolidasi industri untuk meningkatkan efisiensi, namun resistensi serikat pekerja menyoroti tantangan sosial yang menyertai restrukturisasi besar. Kondisi masih berkembang seiring negosiasi antara manajemen dan serikat pekerja.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.