Media Kampung – 01 April 2026 | PT Charoen Pokphand Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menorehkan pertumbuhan laba bersih dua digit pada akhir 2025, menegaskan posisi mereka sebagai pemain utama di sektor unggas Indonesia.

Kedua perusahaan mencatat total aset yang berdekatan, dengan CPIN mencapai Rp45,85 triliun naik 7,2% YoY, sementara JPFA menguat menjadi Rp40,06 triliun dengan pertumbuhan 15,6% YoY.

Struktur liabilitas menunjukkan perbedaan signifikan; CPIN menurunkan total liabilitas menjadi Rp11,71 triliun, turun 6,4% YoY, dan mengalihkan beban utang jangka pendek ke jangka panjang.

Sebaliknya, JPFA mengalami peningkatan total liabilitas menjadi Rp20,04 triliun, naik 10,8% YoY, dengan liabilitas jangka pendek melonjak 77,7% YoY.

Proporsi liabilitas jangka pendek CPIN mencapai 65,3% dibandingkan 34,7% jangka panjang, sedangkan JPFA memiliki 82,4% liabilitas jangka pendek.

Ekuitas CPIN tumbuh 12,7% YoY menjadi Rp34,15 triliun, sementara ekuitas JPFA meningkat 20,8% YoY menjadi Rp20,12 triliun.

Segmen utama CPIN tetap ayam pedaging, menyumbang Rp34,02 triliun atau 48,1% total pendapatan, meski turun 3,7% YoY.

Pertumbuhan penjualan pakan CPIN mengimbangi penurunan tersebut, naik 27,6% YoY menjadi Rp20,98 triliun, menyumbang hampir 30% pendapatan.

JPFA mengandalkan peternakan komersial sebagai sumber pendapatan terbesar, menghasilkan Rp24,51 triliun atau 40,4% dari total Rp60,72 triliun.

Semua segmen pendapatan JPFA mencatat pertumbuhan positif, termasuk pakan ternak naik 7,6% YoY menjadi Rp15,78 triliun.

Pengolahan hasil peternakan JPFA tumbuh 19,7% YoY menjadi Rp10,65 triliun, menambah diversifikasi pendapatan perusahaan.

Budidaya perairan JPFA mencatat kenaikan 7,6% YoY menjadi Rp5,14 triliun, memperkuat posisi di sektor perikanan.

Pembibitan unggas JPFA naik 8,14% YoY menjadi Rp3,54 triliun, sementara perdagangan lain-lain bertumbuh 9,6% YoY menjadi Rp2,3 triliun.

Biaya pokok penjualan (BPP) CPIN meningkat 2,2% YoY menjadi Rp58,28 triliun, didominasi oleh bahan baku yang menyumbang 82,7% BPP.

JPFA mencatat kenaikan BPP sebesar 6,6% YoY menjadi Rp47,52 triliun, dengan bahan baku menyumbang 79,8%.

Meski bahan baku CPIN turun 14,8% YoY menjadi Rp57,44 triliun, JPFA mengalami kenaikan 6,4% YoY menjadi Rp37,93 triliun.

Laba kotor CPIN mencapai Rp12,42 triliun, naik 19,2% YoY, sementara JPFA mencatat Rp13,19 triliun, naik 17,6% YoY.

Laba bersih CPIN melonjak 52% YoY menjadi Rp5,64 triliun, mengungguli pertumbuhan JPFA yang naik 32,6% YoY menjadi Rp4 triliun.

Di pasar saham, CPIN diperdagangkan pada Rp4.050 per lembar pada Selasa (31/3), menguat 1%, namun mengalami penurunan 10,20% YTD.

JPFA pada saat yang sama turun 2,46% menjadi Rp2.380, dengan penurunan YTD sebesar 9,16%.

Kinerja keuangan kuat tidak cukup melindungi kedua saham dari koreksi pasar yang meluas pada awal tahun.

Para analis menilai bahwa pergeseran struktur utang CPIN ke jangka panjang dapat meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan.

Sementara itu, peningkatan liabilitas jangka pendek JPFA menimbulkan kekhawatiran tentang likuiditas jangka pendek.

Diversifikasi bisnis CPIN ke pakan dan anak ayam menunjukkan strategi mitigasi risiko pada segmen utama ayam pedaging.

JPFA mengandalkan pertumbuhan seragam di semua segmen untuk menyeimbangkan tekanan pada margin.

Persentase kontribusi segmen ayam pedaging CPIN menurun, namun pertumbuhan penjualan pakan menambah nilai tambah pada rantai pasok.

Keberhasilan JPFA dalam meningkatkan pendapatan perairan dan pembibitan unggas mencerminkan upaya memperluas basis pendapatan.

Perbandingan total aset kedua perusahaan menunjukkan skala yang sebanding, namun perbedaan dalam struktur liabilitas menandai pendekatan keuangan yang berbeda.

Kedua emiten tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang menargetkan sektor pangan dan agribisnis Indonesia.

Dengan pertumbuhan laba bersih yang kuat, prospek 2026 diharapkan tetap positif asalkan kondisi makro tetap mendukung.

Pengawasan regulasi dan kebijakan pemerintah terkait pangan akan menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan pertumbuhan.

Secara keseluruhan, JPFA dan CPIN menunjukkan kinerja keuangan yang solid pada 2025, meski menghadapi tekanan pasar saham.

Investor disarankan untuk memperhatikan rasio utang, diversifikasi pendapatan, dan tren margin dalam menilai prospek kedua perusahaan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.