Media Kampung – 21 Maret 2026 | PT ABM Investama Tbk mencatat penurunan signifikan pada pendapatan dan laba bersih selama tahun 2025.

Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan berakhir pada USD 1,03 miliar, menurun 13,49% dari USD 1,20 miliar pada 2024.

Penurunan ini terjadi meski perusahaan berhasil memangkas beban pokok pendapatan sebesar 12,57%, menjadi USD 934,49 juta.

Laba bruto mengalami penurunan 20,97% menjadi USD 103,67 juta, jauh di bawah USD 131,19 juta pada periode sebelumnya.

Biaya penjualan dan distribusi berkurang menjadi USD 2,18 juta, dibandingkan USD 3,81 juta tahun lalu.

Namun, beban umum dan administrasi naik menjadi USD 58,37 juta, meningkat dari USD 53,07 juta pada 2024.

Pendapatan lainnya juga menurun, tercatat USD 20,23 juta dibandingkan USD 33,55 juta pada tahun sebelumnya.

Akibat kombinasi faktor tersebut, laba usaha terpuruk 41,26% menjadi USD 63,53 juta, jauh di bawah USD 107,85 juta pada 2024.

Laba atas entitas asosiasi turun 44,06% menjadi USD 84,67 juta, dibandingkan USD 151,37 juta pada tahun sebelumnya.

Pendapatan dividen menurun menjadi USD 650, jauh di bawah USD 831.453 pada 2024.

Pendapatan keuangan juga mengalami penurunan, tercatat USD 4,38 juta dibandingkan USD 4,55 juta pada periode lalu.

Biaya keuangan berhasil dipangkas menjadi USD 76,55 juta, turun signifikan dari USD 109,80 juta pada 2024.

Hasil akhir menunjukkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menurun 150,6% menjadi USD 70,61 juta, dibandingkan USD 139,36 juta pada tahun sebelumnya.

Laba per saham dasar pun berkurang menjadi USD 0,02565, jauh di bawah USD 0,05062 pada 2024.

Direksi menyatakan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi yang menekan permintaan di sektor utama perusahaan.

Seorang eksekutif senior menambahkan, “Kami sedang meninjau kembali struktur biaya dan memperkuat portofolio proyek untuk memulihkan margin,” tanpa memberi detail lebih lanjut.

Manajemen juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber pendapatan sebagai langkah jangka panjang.

Investor mencermati bahwa penurunan laba bersih dapat mempengaruhi ekspektasi dividen di tahun mendatang.

Analisis pasar menilai bahwa tekanan kompetitif dan fluktuasi nilai tukar menjadi faktor tambahan yang memperburuk kinerja keuangan.

Meski demikian, perusahaan tetap mempertahankan komitmen terhadap inisiatif keberlanjutan yang dijalankan anak perusahaan.

Program energi terbarukan, khususnya pemasangan pembangkit listrik tenaga surya, diharapkan dapat memberikan kontribusi pengurangan emisi karbon di masa depan.

Secara keseluruhan, laporan keuangan 2025 mencerminkan tantangan operasional yang harus diatasi oleh PT ABM Investama.

Perusahaan berjanji akan meningkatkan efisiensi operasional dan mengoptimalkan portofolio bisnis untuk memperbaiki profitabilitas.

Para pemegang saham diharapkan memantau langkah-langkah perbaikan yang akan diimplementasikan pada kuartal berikutnya.

Kondisi keuangan yang lemah pada 2025 menandai perlunya strategi restrukturisasi yang lebih agresif.

Dengan fokus pada pengendalian biaya dan inovasi, perusahaan berharap dapat mengembalikan pertumbuhan pada tahun 2026.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.