Media Kampung – 05 April 2026 | Sejumlah warga di Kota Palopo menemukan sebuah benda berwarna oranye dengan bentuk menyerupai granat saat melakukan kerja bakti di Tanah Perkuburan Umum (TPU) setempat.

Penemuan tersebut terjadi pada sore hari ketika tim relawan membersihkan area pemakaman yang mulai berlumut.

Saksi mata, seorang pria berusia empat puluh tahun, melaporkan bahwa benda itu tampak seperti granat konvensional namun berlabel “nanas” pada bagian luar.

Setelah menyadari potensi bahaya, ia segera melaporkan temuan kepada aparat keamanan desa.

Petugas kepolisian setempat kemudian mengamankan lokasi dan menutup area sekitar untuk menghindari kerumunan.

Tim Gegana, unit penjinak bom nasional, segera dikerahkan ke Palopo untuk melakukan inspeksi dan penanganan.

Tim tersebut diperkirakan tiba di lokasi dalam waktu kurang satu jam setelah panggilan darurat.

Ia menambahkan bahwa prosedur standar meliputi pemindaian dengan peralatan deteksi dan penentuan jenis bahan peledak.

Para ahli memperkirakan bahwa “granat nanas” adalah istilah populer untuk bahan peledak improvisasi yang sering diproduksi secara ilegal.

Jenis bahan ini biasanya menggunakan bahan kimia rumah tangga yang dicampur dengan logam berat untuk meningkatkan daya ledak.

Keberadaan granat semacam itu di area publik menimbulkan kekhawatiran akan jaringan kriminal yang mengedarkan senjata buatan amatir.

Wali kota Palopo, Dr. Riza Deli, menyatakan bahwa pemerintah kota akan meningkatkan pengawasan dan koordinasi dengan unit keamanan nasional.

Ia menegaskan bahwa penemuan ini tidak akan dibiarkan berulang tanpa tindakan tegas.

Sementara proses penjinakan berlangsung, warga diminta untuk menghindari area TPU dan melaporkan hal mencurigakan kepada pihak berwenang.

Pihak kepolisian juga membuka jalur komunikasi khusus untuk menerima informasi terkait bahan peledak serupa.

Insiden sebelumnya melibatkan penemuan bom rakitan di pasar tradisional dan kebun raya.

Setiap kasus memicu operasi penjinakan yang berhasil menonaktifkan bahan berbahaya tanpa korban jiwa.

Para ahli keamanan menilai bahwa peningkatan kesadaran masyarakat menjadi faktor kunci dalam pencegahan tragedi.

Masyarakat diminta untuk tidak menyentuh atau memindahkan benda mencurigakan tanpa bantuan profesional.

Dalam konteks regional, Palopo termasuk dalam zona rawan penyebaran senjata improvisasi karena akses mudah ke bahan mentah.

Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan telah merencanakan program edukasi tentang bahaya bahan peledak rumah tangga.

Program tersebut melibatkan sekolah, lembaga keagamaan, dan organisasi kemasyarakatan.

Upaya preventif diharapkan dapat menurunkan angka penemuan bahan berbahaya dalam jangka panjang.

Sementara itu, Tim Gegana berhasil menonaktifkan granat pada hari yang sama setelah melakukan prosedur standar.

Setelah proses penjinakan selesai, benda tersebut diamankan sebagai barang bukti untuk penyelidikan lanjutan.

Kepolisian akan melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengidentifikasi asal usul dan jaringan yang terlibat.

Jika terbukti bahwa granat tersebut diproduksi secara lokal, pihak berwenang akan mengejar pelaku produksi dan distribusi.

Warga yang terlibat dalam kerja bakti menyatakan rasa lega setelah granat dinonaktifkan dengan aman.

Mereka berharap kejadian serupa tidak terulang, terutama pada kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang.

Penanganan cepat oleh Tim Gegana menunjukkan kesiapan aparat dalam menghadapi ancaman bahan peledak improvisasi.

Kejadian ini sekaligus menjadi peringatan bagi masyarakat agar tetap waspada dan melaporkan temuan mencurigakan.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan unit khusus, diharapkan keamanan publik di Palopo dapat terjaga secara berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.