Media Kampung – 04 April 2026 | Truk logistik membanjiri jalur menuju Pelabuhan Ketapang setelah pembatasan angkutan barang berakhir, menyebabkan antrean panjang hingga 7 km pada H+12 lebaran.

Arus balik kendaraan dari Jawa ke Bali meningkat tajam, menambah beban jalan arteri Banyuwangi‑Situbondo selama enam hari berturut‑turut.

PT Angkutan Sarpras Darat Pelabuhan (ASDP) Ketapang mengambil langkah terkoordinasi untuk memulihkan kelancaran lintas laut‑daratan.

Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menyatakan komitmen perusahaan bersama stakeholder untuk mempercepat penyelesaian antrean dan mengembalikan layanan normal.

Di dalam pelabuhan, pola muatan diatur ulang; Dermaga 1‑3 difokuskan pada penumpang roda dua, empat, serta bus, sementara Dermaga 4 dan LCM diperuntukkan bagi truk logistik.

Pengaturan ini bertujuan mengurangi konflik antara kendaraan penumpang dan logistik, sehingga proses bongkar‑muat menjadi lebih seragam dan cepat.

General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, menambahkan bahwa ritme kapal ditingkatkan dan fasilitas pendukung dipersiapkan untuk mengoptimalkan turn‑around time.

Penyesuaian jadwal kapal diharapkan menurunkan waktu tunggu kendaraan di gerbang masuk pelabuhan menjadi 20‑35 menit per unit.

Koordinasi lalu lintas juga diperkuat dengan bantuan aparat keamanan dan militer; 365 personel TNI dikerahkan lintas matra untuk mengatur arus kendaraan.

Pihak ASDP mengapresiasi peran TNI yang membantu mempercepat penguraian antrean serta menjaga ketertiban di area pelabuhan.

Untuk menahan volume truk, ASDP mengoptimalkan zona penampungan; area Pusri dialokasikan untuk menampung hingga 150 truk sumbu tiga.

Sementara itu, buffer zone Bulusan dapat menampung sekitar 600 unit truk campuran, mencegah kepadatan langsung di dalam pelabuhan.

Pada Jumat 2 April pagi, panjang antrean kendaraan dari arah utara tercatat mencapai 7 km, atau setara dengan Parasputih, didominasi truk logistik.

Meskipun antrean panjang, arus kendaraan dari gerbang tol ke dermaga tetap bergerak, dengan estimasi waktu tempuh 20‑35 menit.

Data Posko Ketapang selama 24 jam pada H+10 (1 April) menunjukkan 47.961 penumpang menyeberang, meningkat 16 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sejak H‑10 hingga H+10, total penumpang yang melintasi selat Bali mencapai 761.391 orang, dengan 201.676 unit kendaraan tercatat.

Angka tersebut mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat dan kebutuhan distribusi barang selama periode lebaran.

ASDP menekankan pentingnya disiplin pengguna jalan; pengendara diminta tidak melawan arus untuk menghindari penumpukan lebih lanjut.

Windy Andale menegaskan bahwa kepatuhan pengguna jasa menjadi kunci utama percepatan penyelesaian antrean.

Selain pengaturan internal, ASDP berkolaborasi dengan otoritas daerah, kepolisian, dan operator tol untuk sinkronisasi informasi lalu lintas.

Upaya bersama tersebut mencakup penyesuaian jalur masuk, penempatan petugas pengatur, serta penyuluhan kepada sopir truk mengenai prosedur baru.

Dampak ekonomi lokal terlihat dari peningkatan aktivitas logistik; pedagang dan pelaku usaha di sekitar pelabuhan melaporkan permintaan yang melonjak.

Namun, kepadatan truk juga menimbulkan tantangan bagi penduduk setempat, khususnya terkait polusi suara dan emisi kendaraan berat.

Pihak berwenang berjanji akan mengevaluasi kebijakan pembatasan operasional angkutan barang sumbu tiga ke atas guna menghindari kejadian serupa di masa mendatang.

Dengan sinergi lintas sektor, ASDP optimis antrean akan berkurang dalam beberapa hari ke depan, sehingga layanan penyeberangan kembali aman, tertib, dan terkendali.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.