Media Kampung – 04 April 2026 | Laporan awal menyebut lima orang wisatawan mengalami luka setelah perahu jenis Donat Boat terbalik di Pantai Harapan Ammani, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Kejadian terjadi pada sore hari Rabu, 2024.
Kelima korban, yang terdiri dari tiga pria dan dua wanita berusia antara 22 hingga 45 tahun, melaporkan rasa sakit pada bagian perut dan lengan. Pemeriksaan medis di posko Puskesmas setempat mengidentifikasi memar serta beberapa luka lecet ringan.
Tim medis memberikan perawatan pertama berupa kompres dingin dan penanganan rasa sakit, kemudian merujuk dua korban dengan memar lebih parah ke rumah sakit Daerah Pinrang. Semua korban dinyatakan stabil dan dipantau selama 24 jam.
Pengelola Donat Boat, PT Bahari Selatan, menyatakan bahwa peralatan keselamatan seperti pelampung dan jaket telah tersedia pada setiap kapal. Namun, perusahaan mengakui adanya kegagalan prosedur dalam memandu penumpang selama manuver.
Seorang juru bicara perusahaan menegaskan bahwa operasional akan dihentikan sementara untuk evaluasi keselamatan. “Kami akan meninjau kembali prosedur pelatihan awak kapal serta memastikan semua penumpang memahami tata cara penggunaan pelampung,” katanya.
Pihak kepolisian setempat, Polres Pinrang, membuka penyelidikan atas insiden tersebut. Petugas menanyakan saksi serta memeriksa rekaman CCTV yang terpasang di area pantai.
Kepala Seksi Lalu Lintas dan Angkutan Laut Polres Pinrang, Kombes Pol. Dedi Prasetyo, menyampaikan bahwa pelanggaran standar operasional dapat dikenai sanksi administratif. “Jika terbukti kelalaian, kami akan menindak tegas demi melindungi keselamatan wisatawan,” ujarnya.
Sementara itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pinrang mengingatkan operator wisata untuk mematuhi regulasi keselamatan laut. Dinas berjanji meningkatkan pengawasan pada atraksi air populer seperti Donat Boat.
Donat Boat, yang menyerupai donat raksasa, telah menjadi daya tarik utama di Pantai Harapan Ammani selama beberapa tahun terakhir. Atraksi ini menawarkan pengalaman berputar sambil menikmati pemandangan laut, namun memerlukan koordinasi yang ketat antara awak kapal dan penumpang.
Sebelumnya, terdapat laporan insiden serupa di daerah lain, meskipun tidak menyebabkan cedera serius. Hal tersebut menambah kekhawatiran mengenai standar keamanan pada atraksi serupa di seluruh Indonesia.
Ahli keselamatan laut, Dr. Rini Hidayah, menyarankan batas maksimal penumpang dan keharusan melakukan briefing keselamatan sebelum tiap putaran. Ia menambahkan bahwa kondisi ombak dan angin harus dipertimbangkan dalam setiap operasional.
Sebagai respons, beberapa agen perjalanan lokal menawarkan paket wisata alternatif yang menekankan kegiatan darat, seperti trekking dan budaya Bugis. Mereka berharap dapat menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan keselamatan publik.
Pengunjung yang menyaksikan kejadian melaporkan rasa keprihatinan namun tetap mengapresiasi penanganan cepat tim medis dan kepolisian. “Saya harap pihak terkait lebih serius dalam mengatur atraksi ini,” ujar salah satu wisatawan yang tidak terlibat.
Pemerintah daerah menyatakan komitmen untuk meninjau kembali perizinan semua operator atraksi air di wilayahnya. Langkah ini diharapkan mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Meskipun kejadian ini menimbulkan kekhawatiran, Pantai Harapan Ammani tetap menjadi tujuan wisata yang ramai pada akhir pekan. Pengelola berharap dapat melanjutkan operasional setelah perbaikan prosedur selesai.
Kasus ini menegaskan pentingnya penegakan standar keselamatan dalam industri pariwisata, terutama pada atraksi yang melibatkan gerakan dinamis. Upaya bersama antara pemerintah, operator, dan wisatawan diperlukan untuk menjaga pengalaman liburan yang aman.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan