Media Kampung – 01 April 2026 | Jasad tiga anggota TNI yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian UNIFIL di Lebanon dilaporkan meninggal setelah terkena tembakan artileri pada 29 dan 30 Maret 2024, menambah duka di jajaran militer Indonesia.

Praka Farizal Rhomadhon, prajurit berusia 28 tahun asal Kulon Progo, Yogyakarta, tewas saat patroli di daerah Adchit El Qousair pada Minggu 29 Maret setelah terkena tembakan artileri yang tidak terdeteksi.

Istri Farizal, Supinah, menyampaikan bahwa suaminya sempat menyiapkan kepulangan pada April mendatang, dan tiket penerbangan yang telah dijadwalkan untuk Mei kini tidak akan pernah terpakai.

Farizal bertugas sebagai Taban Provost 1 di Kompi Provost Kompi Markas Yonif 113/Jaya Sakti, Brigade Infanteri 25/Siwah, Kodam Iskandar Muda, Aceh, dan sejak April 2025 menjadi anggota Satgas Yonmek XXIII‑S/UNIFIL di Lebanon Selatan.

Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, berusia sekitar 34 tahun, gugur pada Senin 30 Maret setelah ledakan di wilayah Bani Hayyan menimpa unitnya yang tengah bergerak.

Zulmi merupakan perwira elit Kopassus Grup 2 Sandi Yudha yang lulus dari Akademi Militer Magelang 2015, memiliki gelar Diploma IV Manajemen Pertahanan, dan menjabat sebagai Komandan Kompi Task Force dalam kontingen Garuda di bawah UNIFIL.

Sertu Muhammad Nur Ichwan, prajurit termuda berusia 23 tahun asal Desa Deyangan, Mertoyudan, Magelang, meninggal bersama Zulmi pada insiden yang sama di Bani Hayyan.

Ichwan menempati posisi perawat di Kesehatan Komando Daerah Militer IX/Udayana setelah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Militer Angkatan Laut Surabaya, dan bergabung dengan UNIFIL pada April 2025.

Kepala Staf Angkatan Darat menanggapi tragedi ini dengan pernyataan duka yang menegaskan bahwa kematian ketiga prajurit menambah beban emosional bagi keluarga, rekan kerja, dan institusi militer secara keseluruhan.

UNIFIL, yang dibentuk pada tahun 1978 untuk memantau gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, menempatkan pasukan Indonesia dalam zona penyangga yang seringkali menjadi target tembakan lintas batas.

Kehilangan tiga prajurit dalam dua hari menyoroti risiko tinggi yang dihadapi personel Indonesia dalam operasi perdamaian, sekaligus mengingatkan pemerintah akan pentingnya peningkatan perlindungan dan evakuasi cepat di daerah konflik.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat, keluarga almarhum kini mengharapkan kepastian proses pemakaman dan penghargaan atas pengabdian para prajurit yang telah mengorbankan nyawa untuk menjaga stabilitas regional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.