Media Kampung – 30 Maret 2026 | Jobstreet mengumumkan hasil survei yang menunjukkan lonjakan pengunduran diri karyawan setelah Lebaran, dengan peningkatan 18% dibandingkan periode sebelum Ramadan.

Survei melibatkan lebih dari 10.000 responden dari berbagai sektor di Indonesia, mencatat bahwa 42% mengaku berniat mencari pekerjaan baru dalam tiga bulan setelah Idul Fitri.

Analisis mengidentifikasi faktor utama meliputi kelelahan kerja, kurangnya peluang pengembangan, dan ketidakcocokan nilai pribadi dengan budaya perusahaan.

Para ahli HR menekankan bahwa tekanan kerja berkelanjutan selama bulan puasa dan peningkatan beban setelah libur dapat memicu burnout, yang menjadi pendorong utama keputusan resign.

“Karyawan yang merasakan stres kronis cenderanya mencari lingkungan yang lebih mendukung kesejahteraan mental,” ujar Dr. Maya Putri, konsultan manajemen SDM, menambahkan bahwa burnout seringkali muncul setelah libur panjang.

Data juga menunjukkan bahwa gaji yang tidak sebanding dengan tanggung jawab memicu ketidakpuasan, terutama di industri teknologi dan layanan keuangan, dimana 27% responden menyatakan upah menjadi pertimbangan utama.

Selain faktor finansial, stagnasi karier menjadi alasan signifikan; hampir sepertiga pekerja melaporkan tidak ada peluang promosi atau pelatihan selama setahun terakhir.

Lingkungan kerja yang dianggap tidak sehat atau toksik, termasuk persaingan tidak adil dan budaya mikro‑manajemen, dicatat oleh 21% responden sebagai pemicu utama untuk mengundurkan diri.

Kesesuaian nilai pribadi dengan misi perusahaan juga muncul sebagai faktor, terutama bagi generasi milenial yang menilai keberlanjutan dan tanggung jawab sosial sebagai bagian penting dari kepuasan kerja.

Survei Jobstreet menyoroti bahwa 15% responden mengaku telah menerima tawaran pekerjaan dengan gaji lebih tinggi dan jalur karier yang lebih jelas, sehingga mempercepat keputusan resign.

Penelitian serupa dari Fimela menegaskan pentingnya pertimbangan matang sebelum resign, mengingat dampak finansial dan risiko kehilangan manfaat sosial, namun menekankan bahwa kesehatan fisik dan mental harus menjadi prioritas utama.

Pakar karier menasihati pekerja yang berniat resign untuk menyiapkan rencana keuangan minimal enam bulan, serta melakukan pencarian kerja secara terstruktur sebelum mengajukan surat pengunduran diri.

Perusahaan diharapkan menanggapi tren ini dengan meningkatkan kebijakan keseimbangan kerja‑hidup, program kesejahteraan mental, serta transparansi jalur promosi untuk menurunkan tingkat turnover pasca Lebaran.

Menurut laporan Jobstreet, perusahaan yang berhasil menurunkan angka resign mengimplementasikan fleksibilitas jam kerja dan program pengembangan kompetensi yang terukur, yang terbukti meningkatkan retensi hingga 12 poin persentase.

Secara keseluruhan, fenomena resign usai Lebaran mencerminkan perubahan ekspektasi tenaga kerja Indonesia, dimana kesejahteraan, penghargaan, dan peluang pertumbuhan menjadi faktor penentu utama dalam keputusan karier.

Pengamat pasar kerja menutup dengan menilai bahwa tren ini kemungkinan akan berlanjut hingga akhir tahun, mengingat semakin banyak pekerja yang menilai libur Lebaran sebagai titik balik untuk mengevaluasi tujuan profesional mereka.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.