Media Kampung – 30 Maret 2026 | Bandung Zoo mengumumkan bahwa dua anak harimau Bengal berusia delapan bulan meninggal pada akhir Maret 2026.
Kedua anak harimau itu bernama Huru dan Hara, lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan induk Sahrulkan (jantan) dan Jelita (betina).
Gejala awal muncul pada 22 Maret ketika Hara menunjukkan penurunan aktivitas, muntah, dan diare.
Tim medis kebun binatang menemukan parasit cacing pada muntahan Hara dan memberikan obat antiparasit serta suplemen vitamin.
Untuk mencegah penyebaran, Huru yang berada dalam kandang yang sama juga diberikan terapi serupa dan dipindahkan ke kandang terpisah.
Pada 23 Maret, kondisi Hara memburuk dengan diare berdarah, sehingga sampel feses diambil untuk rapid test FPV.
Hasil tes menunjukkan positif Feline Panleukopenia Virus (FPV), virus yang sangat menular pada keluarga Felidae.
Tim medis segera melaksanakan penanganan intensif berupa terapi simptomatik dan suportif.
Namun pada 24 Maret pukul 09.14 WIB, Hara dinyatakan meninggal dunia.
Necropsi mengungkap pendarahan masif pada saluran pencernaan serta kerusakan vili usus khas infeksi FPV.
Parasit cacing juga ditemukan pada usus Hara, menambah beban infeksi.
Setelah kematian Hara, tim memantau Huru yang menunjukkan gejala serupa pada 25 Maret.
Penanganan Huru melibatkan kolaborasi antara Balai Besar KSDA Jawa Barat, UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, serta Khal’s Pet Care Bandung.
Huru sempat melewati fase kritis dan menunjukkan perbaikan pada 26 Maret pagi.
Sayangnya pada pukul 07.30 WIB hari yang sama, Huru juga dinyatakan meninggal.
Necropsi Huru memperlihatkan pendarahan pada usus, kerusakan vili usus, serta luka pada lambung yang menyebabkan perdarahan.
Uji test kit kembali mengonfirmasi positif FPV pada Huru.
Plt. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ammy Nurwaty, menjelaskan bahwa rangkaian pemeriksaan klinis, diagnostik, dan necropsi menunjukkan penyebab kematian adalah infeksi FPV.
Ia menambahkan bahwa virus ini menyerang sel yang aktif membelah, terutama di usus, sehingga menyebabkan kerusakan mukosa secara masif.
Penularan FPV dapat terjadi melalui kontak langsung, lingkungan terkontaminasi, atau benda perantara (fomite).
Satwa muda yang sistem kekebalannya belum matang memiliki risiko mortalitas tinggi akibat penyakit ini.
Balai Besar KSDA Jawa Barat berencana meningkatkan langkah biosekuriti di kebun binatang untuk mencegah wabah serupa.
Langkah tersebut mencakup disinfeksi intensif, pembatasan akses orang dan peralatan, serta pemantauan kesehatan rutin pada semua satwa karnivora.
Koordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung serta tim veteriner akan terus dipertahankan.
Pengelola Eks Kebun Binatang Bandung juga diharapkan meninjau prosedur penanganan parasit dan pemberian vitamin pada satwa muda.
FPV dikenal memiliki tingkat kematian tinggi pada felidae, termasuk kucing domestik dan harimau.
Virus ini dapat bertahan lama di lingkungan, sehingga kebersihan kandang menjadi faktor kunci dalam pencegahan.
Penggunaan rapid test FPV pada feses menjadi alat penting untuk deteksi dini di fasilitas zoologi.
Tim medis menegaskan bahwa terapi suportif tidak selalu cukup mengatasi kerusakan usus yang luas.
Setelah insiden ini, Bandung Zoo menutup sementara untuk perbaikan manajemen internal dan evaluasi protokol kesehatan.
Penutupan sementara bertujuan memberikan waktu bagi pihak terkait melakukan audit biosekuriti secara menyeluruh.
Publik diharapkan tetap mendukung upaya konservasi satwa langka melalui kepatuhan pada protokol kunjungan.
Kejadian ini menyoroti pentingnya pemantauan kesehatan pada satwa reproduksi di kebun binatang.
Secara keseluruhan, kematian Huru dan Hara mengingatkan pada kerentanan satwa muda terhadap patogen menular.
Balai Besar KSDA Jawa Barat berkomitmen memperkuat program vaksinasi dan pencegahan di seluruh kebun binatang provinsi.
Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko penyebaran FPV dan melindungi populasi felidae yang terancam.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kebun binatang dapat kembali beroperasi dengan standar kesehatan yang lebih ketat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan