Media Kampung – 27 Maret 2026 | Kementerian Pertanian mempercepat adopsi metode Alternate Wetting and Drying (AWD) untuk sawah guna mengurangi konsumsi air irigasi hingga dua puluh persen.
Teknik ini memungkinkan petani mengatur siklus pengairan secara terukur tanpa menurunkan produktivitas padi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya pengelolaan air yang efisien sebagai faktor utama menjaga ketahanan produksi pertanian di tengah risiko kekeringan.
“Ketersediaan air yang terencana sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” tegas Amran dalam pernyataannya.
Kepala Badan Riset dan Pengembangan Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry menambahkan bahwa AWD dirancang khusus untuk menjawab tantangan musim kering.
Fadjry menjelaskan bahwa teknologi ini dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009 dan diadaptasi Indonesia sejak 2013.
Hasil uji coba selama enam musim tanam menunjukkan penghematan air antara 17 hingga 20 persen tanpa penurunan hasil panen.
Penelitian tambahan mengindikasikan bahwa penggunaan AWD dapat memperbaiki struktur tanah serta menurunkan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah.
Sistem AWD bekerja dengan membiarkan air surut setelah fase pembanjiran awal hingga kedalaman tertentu sebelum dilakukan penyiraman kembali.
Petani memantau kedalaman air menggunakan pipa paralon berdiameter 10‑15 cm yang dipasang di area dekat pematang, berfungsi mirip piezometer sederhana.
Ketika muka air di dalam pipa turun 10–15 cm di bawah permukaan, penyiraman kembali dilakukan hingga muka air mencapai 3‑5 cm untuk menjaga kelembapan optimal.
Siklus ini diulang secara berkala, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi cuaca dan fase kritis tanaman seperti pemupukan dan pembungaan.
Ali Pramono, analis lingkungan pertanian di BRMP, mencatat bahwa metode ini tidak hanya menghemat air tetapi juga meningkatkan daya tahan akar terhadap stres kekeringan.
“AWD memperkuat ketahanan sistem produksi padi sekaligus membuka peluang perluasan layanan irigasi ke lahan lain,” ujar Ali.
Pemerintah menargetkan penerapan AWD di wilayah rawan kekeringan, khususnya di pulau Jawa dan Sumatera, sebagai bagian dari strategi Climate Smart Agriculture.
Implementasi skala luas diperkirakan dapat mengurangi beban pada jaringan irigasi nasional yang semakin tertekan oleh perubahan iklim.
Kementan juga menyertakan pelatihan teknis bagi petani melalui dinas pertanian daerah serta penyediaan alat sederhana untuk monitoring air.
Dengan adopsi AWD yang terus meningkat, diharapkan produksi padi tetap stabil meskipun musim kemarau menjadi lebih tidak menentu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan