Media Kampung – 26 Maret 2026 | Kecelakaan speedboat Habibi terjadi pada Kamis 19 Maret ketika kapal melintasi Sungai Sesayap di Desa Sebawang, Kabupaten Tana Tidung.
Arus kuat menghantam kapal, membuat ABK bernama Firman berusia 25 tahun terjatuh ke dalam sungai dan hilang.
Pihak Basarnas Tarakan segera mengaktifkan tim pencarian setelah menerima laporan kecelakaan.
Tim pencarian gabungan terdiri atas Basarnas, BPBD Tana Tidung, Brimob, Polairud, TNI AL, dan relawan setempat.
Koordinasi awal menempatkan titik pencarian pada koordinat 3°35’39.16″N 116°59’31.26″E.
Unit penyelamatan menggunakan Rigid Buoyancy Boat dan perahu Rescue Dimex untuk menelusuri alur sungai.
Cuaca pada hari pertama dilaporkan cerah, namun arus tetap menjadi faktor utama yang menghambat pencarian.
Selama dua hari pertama, tim melakukan penyisiran visual di sekitar titik kecelakaan tanpa menemukan jejak korban.
Pada hari ketiga, tim menambah pencarian dengan sonar portable namun hasil tetap nihil.
Tim SAR melaporkan kondisi air yang dinamis dan kedalaman yang bervariasi menyulitkan penggunaan peralatan standar.
Upaya pencarian berlanjut hingga hari keempat dengan dukungan helikopter Basarnas untuk pemantauan udara.
Helikopter melakukan foto udara, namun tidak ada indikasi bangkai atau peralatan yang terangkat ke permukaan.
Hari kelima, tim mengalihkan fokus ke wilayah hulu sungai mengikuti perkiraan arus membawa korban.
Penggunaan perahu motor kecil memungkinkan tim menembus cabang sungai yang sempit.
Meski intensitas pencarian meningkat, tidak ada temuan fisik yang mengonfirmasi keberadaan Firman.
Pada hari keenam, keluarga korban diberi informasi perkembangan dan diminta bersabar.
Keluarga mengungkapkan keikhlasan dan meminta agar operasi pencarian dihentikan.
Basarnas menanggapi permintaan tersebut dengan menyiapkan laporan akhir operasi.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Tarakan, Syahril, menyatakan keputusan penutupan diambil setelah tim menyelesaikan penyisiran maksimal.
Ia menambahkan bahwa semua unsur yang terlibat akan kembali ke unit masing-masing setelah debriefing terakhir.
Debriefing terakhir dilaksanakan pada pukul 16.00 WITA pada hari ketujuh, Rabu 25 Maret.
Setelah debriefing, Basarnas mengumumkan bahwa Firman dinyatakan hilang dalam tugas.
Pernyataan resmi menegaskan tidak ada bukti fisik yang ditemukan selama operasi tujuh hari.
Kejadian ini menambah catatan kecelakaan transportasi air di wilayah Kalimantan Utara.
Pihak berwenang menekankan pentingnya penilaian kondisi arus sebelum melakukan perjalanan di sungai kecil.
Para ahli keamanan maritim mengingatkan bahwa kecepatan dan beban kapal harus disesuaikan dengan kondisi aliran.
Masyarakat setempat diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan melaporkan perubahan kondisi sungai secara rutin.
Basarnas berkomitmen untuk meningkatkan prosedur pencarian di wilayah dengan arus dinamis.
Koordinasi lintas instansi selama operasi menjadi contoh kerjasama dalam penanggulangan bencana.
Walaupun operasi dihentikan, upaya pencegahan diharapkan dapat mengurangi risiko serupa di masa depan.
Insiden ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai regulasi keselamatan kapal kecil di daerah terpencil.
Pemerintah daerah Tana Tidung berjanji akan meninjau kebijakan navigasi sungai secara menyeluruh.
Penghormatan kepada korban dan keluarganya tetap menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan.
Dengan penutupan operasi, semua pihak berharap agar keluarga menemukan kedamaian dan masyarakat tetap waspada.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan