Media Kampung – 25 Maret 2026 | Kebun Binatang Bandung mengumumkan kematian Hara, anak harimau Bengal berusia delapan bulan, pada Senin 22 September 2025. Kematian ini menambah beban emosional bagi pengelola dan pengunjung yang rutin menyaksikan pertumbuhan sang karnivora muda.

Penemuan mayat Hara terjadi saat petugas kebun, Usup Supriyatna, sedang menggendong anak harimau di depan kandang. Usup melaporkan kondisi tidak bernyawa setelah pemeriksaan singkat, memicu kepanikan di antara staf.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) mengonfirmasi kematian Hara, namun belum mengeluarkan laporan lengkap. Pernyataan resmi BBKSDA menyebutkan hasil pemeriksaan masih dalam proses analisis dokter hewan.

Hara lahir pada 12 Juli 2025 bersama saudaranya, Huru, dari pasangan Jelita (betina) dan Sahrulkan (jantan). Kedua anak harimau menjadi bagian penting program konservasi kebun binatang sejak kelahiran mereka.

Kebun Binatang Bandung baru-baru ini terlibat sengketa hukum terkait perizinan dan standar kesejahteraan hewan. Kontroversi itu memperburuk citra institusi menjelang tragedi kematian Hara.

Pengunjung yang menempuh jarak jauh ke Bandung melaporkan kekecewaan mendalam ketika menemukan kebun binatang tutup sementara. Beberapa saksi mengaku ‘gigit jari’ menahan rasa sedih melihat penutupan fasilitas.

Pihak pengelola berjanji akan meningkatkan protokol perawatan dan memperketat pengawasan medis pada satwa yang masih muda. Mereka juga berkomitmen membuka kembali kebun binatang setelah penyelidikan selesai dan perbaikan dilakukan.

Eri, juru bicara BBKSDA, mengatakan ‘Kami masih menunggu hasil lengkap, tetapi kami memastikan penyelidikan transparan’. Pernyataan itu menegaskan komitmen lembaga terhadap akuntabilitas.

Usup Supriyatna menyatakan, ‘Hara adalah anak yang ceria, kepergiannya sangat menyakitkan bagi kami semua’. Ia menambahkan bahwa tim akan terus memantau kesehatan Huru secara intensif.

Harimau Bengal termasuk spesies terancam, sehingga kebun binatang berperan penting dalam program pembiakan ex situ. Kegagalan dalam menjaga anak harimau dapat merusak upaya konservasi nasional.

Pemerintah daerah Bandung berjanji memberikan dukungan tambahan untuk fasilitas veteriner dan pelatihan staf. Langkah tersebut diharapkan mencegah kejadian serupa di masa depan.

Sementara hasil akhir penyebab kematian Hara masih ditunggu, kebun binatang berkomitmen menyelesaikan investigasi dan membuka kembali gerbang bagi publik. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya standar kesejahteraan hewan di institusi publik.

Tim veteriner BBKSDA akan melakukan otopsi menyeluruh, memeriksa organ vital, dan menguji kemungkinan infeksi atau kelainan genetik. Proses tersebut diperkirakan memakan waktu beberapa minggu sebelum laporan akhir tersedia.

Berita duka ini disiarkan oleh media lokal seperti Pikiran Rakyat dan Antaranews, meningkatkan tekanan publik pada kebun binatang. Sorotan media menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan satwa.

Setelah penutupan sementara, kebun binatang berencana memperkenalkan sistem pemantauan suhu dan kebersihan kandang yang lebih ketat. Pengunjung akan diberi informasi real-time mengenai kondisi kesehatan hewan melalui aplikasi resmi.

Program edukasi bagi sekolah yang biasanya mengunjungi kebun binatang akan ditunda, namun materi digital akan tetap disediakan. Inisiatif ini bertujuan menjaga kesadaran publik tentang konservasi meski fasilitas fisik tertutup.

Penutupan sementara diperkirakan menurunkan pendapatan tiket sebesar 30 persen, mengurangi dana operasional kebun binatang. Manajemen sedang merencanakan strategi pemulihan keuangan melalui sponsor dan donasi.

Komunitas pecinta satwa di Bandung menggalang petisi daring meminta audit independen atas kebijakan kebun binatang. Petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 5.000 tanda tangan dalam tiga hari.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.