Media Kampung – 25 Maret 2026 | Gunung Ibu di Maluku Utara mengeluarkan abu vulkanik pada Rabu, 25 Maret 2026, sekitar pukul 13.40 WIT.

Kolom abu yang terpantau mencapai ketinggian sekitar 600 meter di atas puncak gunung.

Letusan ini merupakan erupti ketujuh dalam kurun waktu satu minggu terakhir.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan data melalui aplikasi MAGMA Indonesia.

Pengamat mencatat bahwa abu berwarna putih menyebar ke arah selatan dan barat daya dengan intensitas sedang hingga tebal.

Erupsi masih berlanjut pada saat laporan terakhir dibuat.

Peringkat aktivitas gunung tersebut dinaikkan menjadi Level II (Waspada) oleh PVGB.

Data seismik menunjukkan 101 gempa letusan dengan amplitudo 10‑28 milimeter selama 24 jam pertama tanggal 25 Maret.

Durasi gempa berkisar antara 35‑67 detik, menandakan tekanan magma yang signifikan.

Selain itu, tercatat tiga gempa hembusan beramplitudo 3‑5 milimeter dan dua belas gempa harmonik beramplitudo 3‑20 milimeter.

PVMBG mengimbau warga sekitar untuk menjauhi radius dua kilometer dari kawah aktif.

Wilayah perluasan sektoral tiga setengah kilometer ke arah utara kawah juga dilarang untuk aktivitas apa pun.

Petugas menekankan pentingnya mematuhi peringatan demi keselamatan penduduk dan wisatawan.

Selama tahun 2026, MAGMA Indonesia mencatat total 1.141 letusan gunung berapi di seluruh Nusantara.

Gunung Semeru di Jawa Timur menjadi gunung paling aktif dengan 615 letusan, diikuti oleh Gunung Ibu dengan 452 kali letusan.

Data tersebut menegaskan posisi Ibu sebagai salah satu gunung berbahaya di Indonesia.

Pemerintah daerah Maluku Utara telah menyiapkan tim SAR dan posko evakuasi untuk menghadapi kemungkinan peningkatan aktivitas.

Tim medis juga siap memberikan pertolongan pertama bagi korban luka ringan akibat abu yang menempel.

Beberapa sekolah dan fasilitas publik di zona bahaya telah dipindahkan sementara ke lokasi yang lebih aman.

Transportasi laut dan udara di sekitar wilayah tersebut mengalami penyesuaian jadwal untuk menghindari bahaya abu.

Para ilmuwan terus memantau komposisi kimia abu untuk menilai potensi dampak kesehatan masyarakat.

Awal minggu ini, analisis awal menunjukkan konsentrasi sulfur di dalam abu relatif tinggi.

Penggunaan masker respirator disarankan bagi penduduk yang tidak dapat segera meninggalkan zona bahaya.

Petugas kebersihan lingkungan juga menyiapkan langkah-langkah pembersihan jalan utama dari lapisan abu tebal.

Pemerintah pusat telah mengalokasikan dana bantuan darurat untuk daerah terdampak.

Koordinasi antara PVMBG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan pemerintah provinsi berjalan intensif.

Warga diminta tetap mengikuti informasi resmi melalui kanal komunikasi pemerintah.

Media lokal melaporkan adanya kepanikan minor di pasar tradisional yang terletak dalam radius dua kilometer.

Namun, kepanikan tersebut berhasil dikendalikan oleh aparat keamanan setempat.

Para ahli vulkanologi menilai bahwa pola erupsi berulang ini bisa menjadi indikator peningkatan tekanan magma dalam jangka menengah.

Jika tekanan terus meningkat, kemungkinan terjadinya letusan yang lebih besar tidak dapat dikesampingkan.

Untuk itu, pemantauan terus dilakukan secara real‑time dengan bantuan satelit dan sensor seismik.

Kesimpulannya, situasi di sekitar Gunung Ibu tetap kritis dan memerlukan kewaspadaan tinggi.

Pemerintah dan masyarakat diimbau untuk mematuhi semua protokol evakuasi dan keselamatan yang telah ditetapkan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.