Media Kampung – 24 Maret 2026 | Banyak masyarakat masih bingung apakah kura‑kura termasuk dalam kelompok reptil atau amfibi. Pertanyaan ini muncul karena penampilan kura‑kura yang hidup di air sering disamakan dengan hewan amfibi seperti katak.

Secara taksonomi, kura‑kura berada pada kelas Reptilia, ordo Testudines, yang mencakup semua spesies penyu, kura‑kura darat, dan kura‑kura air tawar. Klasifikasi ini didukung oleh sistematika modern yang menempatkan mereka bersama buaya, kadal, dan ular dalam klad Sauropsida.

Ciri fisik khas reptil, seperti kulit bersisik keras, kelenjar keringat yang minim, dan kemampuan mengatur suhu tubuh secara eksogen, juga dimiliki kura‑kura. Kura‑kura menutup tubuhnya dengan karapas yang terbuat dari sisik yang menyatu, berbeda dengan kulit berlendir pada amfibi.

Kura‑kura berkembang biak dengan bertelur di darat, memerlukan suhu tertentu untuk menginkubasi embrio, mirip dengan kebanyakan reptil lainnya. Telurnya memiliki cangkang keras yang melindungi embrio, sedangkan amfibi melahirkan larva berair atau menempelkan telur tanpa cangkang pada lingkungan lembab.

Sistem pernapasan kura‑kura sepenuhnya bergantung pada paru‑paru, tidak memiliki kemampuan bernapas melalui kulit seperti amfibi. Kulit mereka bersifat kedap air dan mengandung lapisan lemak, sehingga tidak berfungsi sebagai organ pertukaran gas.

Fosil tertua dari Testudines ditemukan pada periode Trias, sekitar 220 juta tahun yang lalu, menandakan bahwa kura‑kura telah ada jauh sebelum amfibi modern muncul secara signifikan. Evolusi panjang ini memberi mereka adaptasi khusus untuk hidup di lingkungan semi‑akuatik tanpa mengubah status reptil mereka.

Dr. Rina Suryani, pakar herpetologi Universitas Gadjah Mada, menegaskan, “Kura‑kura tidak pernah menunjukkan fase metamorfosis seperti amfibi; mereka tetap dalam bentuk dewasa sejak menetas.” Menurutnya, pernyataan tersebut penting untuk menghilangkan mitos yang masih tersebar di kalangan pelajar.

Kesalahpahaman ini sering muncul dalam buku teks dasar yang menyederhanakan perbandingan habitat air‑darat tanpa menekankan perbedaan taksonomi. Pendidikan lingkungan kini berupaya menambahkan materi klarifikasi sehingga generasi berikutnya dapat membedakan dengan tepat antara reptil dan amfibi.

Selain aspek ilmiah, mengetahui klasifikasi kura‑kura membantu dalam konservasi, karena kebijakan perlindungan reptil berbeda dengan regulasi amfibi di banyak negara. Dengan memahami bahwa kura‑kura adalah reptil, upaya pelestarian dapat difokuskan pada habitat darat tempat mereka bertelur, sekaligus menjaga ekosistem perairan tempat mereka mencari makan.

Pengakuan resmi ini juga mempermudah pencatatan data biodiversitas di basis data internasional, sehingga populasi kura‑kura dapat dipantau secara akurat. Data yang akurat pada gilirannya memperkuat kebijakan mitigasi perubahan iklim dengan mengintegrasikan peran kura‑kura dalam rantai makanan laut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.