Media Kampung – 21 Maret 2026 | Almas Azzahra resmi dinobatkan sebagai Puteri Indonesia DIY 2026 setelah berhasil menembus audisi nasional yang diselenggarakan Yayasan Puteri Indonesia.
Keberhasilannya menambah deretan finalis yang mewakili beragam provinsi di kompetisi bergengsi tersebut.
Audisi gelombang kedua berlangsung di Graha Mustika Ratu, Jakarta, dimana Almas bersaing dengan puluhan kandidat dari seluruh Indonesia.
Penampilannya yang percaya diri dan pengetahuan budaya lokal membuat juri memberikan tiket ke panggung nasional.
Lahir di Yogyakarta pada 27 September 2000, Almas menamatkan studi Arsitektur di Institut Teknologi Bandung.
Selama kuliah, ia sempat mengikuti program pertukaran pelajar di Vienna University of Technology, memperluas wawasan internasionalnya.
Setelah lulus, ia mendirikan Duale Works Studio, sebuah biro arsitektur yang fokus pada desain berkelanjutan.
Selain itu, Almas juga menjabat sebagai pembawa berita di TVRI Yogyakarta, menegaskan kemampuannya dalam komunikasi publik.
Sebelum Puteri Indonesia, Almas pernah berkompetisi di Putri Batik Nusantara 2024 dan Diajeng Jogja 2021.
Pengalaman tersebut memberinya bekal strategi tampil di panggung berskala nasional.
Almas mengusung misi “Saujana Meruang Budaya”, sebuah gerakan yang bertujuan melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia.
Gerakan itu selaras dengan peran Yogyakarta sebagai pusat produksi batik tradisional.
Dalam sebuah wawancara, Almas menyatakan, “Saya ingin menunjukkan bahwa kecantikan dapat bersanding dengan kepedulian budaya dan inovasi arsitektural.”
Pernyataannya menegaskan komitmen pada tiga pilar utama: estetika, budaya, dan profesionalisme.
Ketua Yayasan Puteri Indonesia, Ratu Widodo, menambahkan, “Almas memiliki kombinasi unik antara pendidikan tinggi, pengalaman media, dan kecintaan pada budaya lokal.”
Penilaian itu memperkuat harapan akan prestasi yang lebih tinggi.
Sejauh ini, belum ada perwakilan DIY yang meraih mahkota Puteri Indonesia.
Keikutsertaan Almas diharapkan menjadi terobosan bagi provinsi yang selama ini belum menjuarai kompetisi tersebut.
Yogyakarta dikenal sebagai kota pelestari batik, keraton, dan seni tradisional.
Kehadiran seorang arsitek sekaligus aktivis batik menambah dimensi baru dalam representasi budaya.
Duale Works Studio telah menyelesaikan beberapa proyek revitalisasi kawasan bersejarah di Yogyakarta, mengintegrasikan nilai estetika tradisional dengan teknik modern.
Pengalaman itu memberi Almas perspektif unik dalam menilai aspek kebudayaan pada kompetisi.
Sebagai pembawa berita TVRI, ia terbiasa menyampaikan informasi secara jelas dan lugas, kualitas yang sangat dibutuhkan pada sesi tanya jawab juri.
Kemampuan berbicara di depan kamera membantu mengurangi tekanan kompetisi.
Program pertukaran di Austria memberinya wawasan tentang arsitektur kontemporer Eropa, yang ia rencanakan untuk diadaptasi dalam proyek-proyek lokal.
Pengalaman internasional tersebut juga memperkuat argumentasinya tentang pentingnya inovasi dalam pelestarian budaya.
Selama persiapan, Almas menjalani pelatihan retorika, etika berbusana, serta kajian mendalam tentang sejarah batik Yogyakarta.
Latihan intensif itu mencerminkan dedikasinya untuk tampil optimal di tingkat nasional.
Masyarakat Yogyakarta menyambut kehadiran Almas dengan antusias, mengirimkan dukungan melalui media sosial dan komunitas seni.
Banyak yang berharap ia dapat mengangkat citra daerah di kancah nasional.
Jika berhasil meraih titel Puteri Indonesia, Almas berencana memperluas program Saujana Meruang Budaya ke seluruh Indonesia.
Ia juga menargetkan kolaborasi antara arsitek muda dan perajin batik untuk menciptakan produk inovatif.
Dengan profil akademik, profesional, serta kepedulian budaya yang kuat, Almas Azzahra menjadi kandidat yang menonjol di Puteri Indonesia 2026.
Perjalanan kariernya menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda Yogyakarta.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan