Media Kampung – 21 Maret 2026 | Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Asia Tenggara mencapai level tertinggi sejak awal 2026, dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Data dari platform Global Petrol Prices mencatat 85 negara melaporkan kenaikan, dengan Kamboja mencatat lonjakan 68 persen dan Vietnam 50 persen.
Kamboja melihat harga bensin oktan 95 melambung dari US$1,11 per liter pada 23 Februari menjadi US$1,32 pada 11 Maret.
Vietnam melaporkan kenaikan serupa, dengan harga bensin naik setengah kali lipat dalam rentang waktu yang sama.
Negara lain seperti Nigeria (35 persen), Laos (33 persen), dan Kanada (28 persen) juga mengalami kenaikan signifikan, menegaskan sifat global krisis energi.
Kenaikan ini terkait erat dengan gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz, satu-satunya jalur laut utama bagi produsen minyak Timur Tengah ke pasar dunia.
Pemerintah Thailand menanggapi dengan menaikkan batas harga maksimum bensin dari 30 baht menjadi 33 baht per liter, efektif mulai Rabu 18 Maret.
Vietnam, yang telah menyesuaikan harga BBM beberapa kali dalam bulan ini, terus menyesuaikan tarif untuk mencerminkan fluktuasi pasar internasional.
Di Jepang, pemerintah menginstruksikan cadangan strategis minyak untuk siap dilepaskan guna menstabilkan pasar domestik.
Sementara itu, Korea Selatan menetapkan batas harga maksimum bagi bensin dan solar untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, sebagai langkah darurat.
Bangladesh menutup semua universitas negeri dan swasta sementara, sementara Pakistan mengimplementasikan sistem kerja empat hari dan kebijakan kerja dari rumah 50 persen untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.
Menurut Menteri Energi Thailand, “Penyesuaian harga merupakan langkah sementara untuk melindungi konsumen sambil menunggu situasi geopolitik membaik.”
Pejabat Kementerian Energi Vietnam menambahkan, “Kami terus memantau harga dunia dan akan menyesuaikan tarif agar tetap terjangkau bagi rakyat.”
Seorang juru bicara pemerintah Jepang menyatakan, “Cadangan strategis akan digunakan secara selektif untuk menahan lonjakan harga yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi.”
Kenaikan BBM memperberat beban transportasi publik dan pribadi, memicu kenaikan tarif taksi serta biaya logistik bagi pelaku usaha.
Sektor transportasi barang melaporkan peningkatan biaya operasional hingga 15 persen, yang berpotensi diteruskan ke konsumen akhir.
ASEAN telah menginisiasi diskusi tentang pembentukan cadangan minyak bersama untuk meningkatkan ketahanan energi regional.
Seorang analis energi ASEAN mencatat, “Kerja sama regional menjadi kunci mengurangi ketergantungan pada jalur Hormuz yang rentan.”
Indonesia masih memantau perkembangan tanpa mengumumkan perubahan harga BBM domestik, sambil memperkuat program subsidi bagi golongan berpendapatan rendah.
Para pengamat memperkirakan volatilitas harga akan bertahan sampai konflik di Timur Tengah mereda atau jalur pengiriman kembali stabil.
Secara keseluruhan, kebijakan hemat energi yang diterapkan oleh negara-negara Asia Tenggara mencerminkan upaya mengurangi dampak ekonomi dari gejolak pasar minyak internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan