Media Kampung – 17 Maret 2026 | Dua mahasiswi Universitas Gadjah Mada, Rina (22) dan Siti (21), bertekad pulang ke kampung halaman masing-masing di Bantul dan Sleman menjelang Idulfitri. Kedua mahasiswa tersebut harus mengatur biaya transportasi, persiapan barang, dan jadwal kuliah agar tidak mengganggu studi. Mereka memilih bus sebagai moda utama karena tiket pesawat terlalu mahal di tengah inflasi dan penurunan pendapatan dari pekerjaan paruh waktu.
Rencana Mudik dan Kendala Finansial
Rina bekerja sebagai asisten laboratorium, sementara Siti mengambil pekerjaan di sebuah kafe. Kedua pekerjaan tersebut belum memberikan gaji penuh untuk bulan Maret, mirip dengan kisah perantau asal Madura yang belum menerima upah. Karena itu, mereka menabung secara intensif, memotong pengeluaran harian, dan mengurangi pembelian makanan ringan. Estimasi biaya pulang pulang menggunakan bus dari Terminal Pulo Gebang ke Bantul diperkirakan mencapai Rp1,2 juta per orang, sesuai data yang dikumpulkan dari sejumlah pemudik.
Pengalaman di Terminal dan Pilihan Transportasi
Rina dan Siti tiba di Terminal Pulo Gebang pada Senin malam, bergabung dengan ribuan penumpang lain yang menunggu keberangkatan. Suasana terminal dipenuhi suara pengumuman, aroma makanan kaki lima, dan antrean panjang untuk tiket. Seperti yang diceritakan oleh pemudik lain di Kalideres, menunggu bus dapat memakan waktu berjam‑jam, namun para penumpang tetap bersabar karena tujuan utama mereka adalah bertemu keluarga.
Kedua mahasiswi memilih bus antar‑kota yang menempuh perjalanan sekitar 12 jam, karena opsi kereta api belum tersedia untuk rute mereka. Mereka membawa koper kecil berisi pakaian Lebaran, oleh‑oleh, dan perlengkapan kuliah. Selama perjalanan, mereka berbagi cerita dengan penumpang lain, termasuk pasangan suami‑istri berusia 55‑56 tahun yang rutin mudik dua tahun sekali, serta pemudik asal Madura yang harus menunda penerbangan karena gaji belum cair.
Kisah Serupa dari Pemudik Lain
Berbagai cerita mudik menunjukkan pola yang sama: ekonomi keluarga menurun, tiket pesawat menjadi beban, dan bus menjadi pilihan hemat. Seorang warga Depok, Sari, memperoleh tiket mudik gratis melalui program pemerintah dan mengungkapkan kebahagiaan yang mendalam saat menerima tiket. Sementara itu, pemudik lain membawa kucing peliharaan untuk mengurangi biaya penitipan hewan, menambah tantangan perjalanan jauh.
Semua contoh tersebut menegaskan bahwa Lebaran tetap menjadi momen penting bagi perantau, meski harus menempuh perjalanan panjang dan mengatasi keterbatasan finansial. Rina dan Siti mencontohkan semangat serupa, berusaha menyeimbangkan antara studi, pekerjaan, dan keinginan untuk kembali ke kampung.
Harapan dan Penutup
Setelah menempuh perjalanan malam hingga pagi, bus tiba di terminal bus Bantul tepat sebelum sahur. Rina dan Siti disambut oleh orang tua masing‑masing, yang menunggu dengan hidangan khas Lebaran. Kedua mahasiswi menyatakan rasa syukur karena dapat kembali ke rumah walaupun harus mengorbankan kenyamanan dan menahan rasa lelah.
Kasus mereka mencerminkan realitas banyak pelajar dan pekerja migran di Indonesia yang berjuang menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan tradisi mudik. Dengan kebijakan transportasi yang lebih terjangkau dan dukungan sosial, harapannya semakin banyak pemudik dapat merayakan Lebaran bersama keluarga tanpa beban berlebih.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.

