Media Kampung – 17 Maret 2026 | Jakarta, 16 Maret 2026 – Menjelang Idul Fitri 1447 H, Bank Indonesia (BI) menghadapi lonjakan permintaan penukaran uang baru. Layanan melalui aplikasi Pintar BI terbatas kuota, sehingga ribuan warga beralih ke layanan mobil kas keliling yang beroperasi di stasiun, bandara, dan rest area.
Antrean Panjang di Aplikasi Pintar BI
Pengguna aplikasi Pintar BI melaporkan kesulitan mendapatkan nomor antrean. Sistem kuota yang terbatas menyebabkan banyak orang tidak berhasil memesan penukaran pecahan baru secara online. Salah satu contoh, Dinar, warga yang akan mudik ke Pekalongan, menyatakan “susah banget, biasanya baru dapat saat mudik di stasiun”. Karena gagal mendapatkan nomor, ia memutuskan menukar uang melalui kas keliling di Stasiun Gambir dengan nilai Rp 3,8 juta.
Kas Keliling Menjadi Alternatif Utama
Mobil kas keliling BI menawarkan proses cepat, tanpa biaya administrasi, dan tidak memerlukan antrean panjang. Efrida, yang mengetahui layanan tersebut lewat TikTok, menukar uang sebesar Rp 4 juta dalam pecahan Rp 20.000, Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000. Ia menekankan bahwa layanan resmi BI lebih murah dibandingkan penukaran di luar yang biasanya mengenakan biaya admin.
Petugas kas keliling hanya meminta uang dalam kondisi rapi agar mesin dapat menghitung dengan mudah, tanpa persyaratan tambahan. Hal ini meningkatkan kepercayaan masyarakat karena tidak ada biaya tersembunyi.
Skala Penukaran Nasional
Data resmi BI mencatat bahwa hingga 13 Maret 2026, lebih dari 1.076.282 orang telah menukar uang baru melalui kanal resmi, meningkat 85,4 % dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk menampung permintaan, BI memperluas jaringan layanan menjadi 9.294 titik, naik dari 5.202 titik pada tahun sebelumnya.
Selain titik tetap, BI menambahkan 55 lokasi go‑show khusus mudik pada 16‑17 Maret, termasuk Bandara Soekarno‑Hatta, Stasiun Pasar Senen, dan berbagai rest area. Total kuota tambahan mencapai sekitar 12 000 paket, dengan masing‑masing paket berisi pecahan yang dapat ditukar sampai Rp 5,3 juta per orang.
Risiko Penukaran di Luar Saluran Resmi
Pihak BI mengingatkan masyarakat bahwa penukaran di luar jaringan resmi berisiko tinggi. Risiko meliputi uang palsu, perhitungan nilai yang tidak akurat, tidak ada jaminan perlindungan, serta potensi penipuan yang dapat menyebabkan kerugian finansial.
Dengan layanan kas keliling yang tersebar di titik‑titik strategis, BI berupaya memastikan ketersediaan uang baru dalam pecahan kecil yang diperlukan untuk tradisi Lebaran, seperti THR, sumbangan, dan transaksi harian selama Ramadan.
Secara keseluruhan, keterbatasan kuota aplikasi Pintar BI mendorong masyarakat mencari alternatif melalui kas keliling, yang terbukti cepat, bebas biaya, dan aman. Upaya perluasan jaringan serta penambahan kuota diharapkan dapat meredam tekanan pada layanan digital dan memastikan semua warga dapat menukarkan uang tepat waktu menjelang Idul Fitri.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








