JAKARTA — Harga Bitcoin US$70.000 menjadi sorotan pasar kripto setelah aset digital terbesar di dunia itu kembali melemah tajam pada Kamis (4/2/2026). Pelemahan ini menandai penurunan hari ketiga berturut-turut dalam sepekan, di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Data CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin sempat turun hingga level US$70.575, atau merosot lebih dari 8 persen. Pada perdagangan terakhir, Bitcoin bergerak di kisaran US$70.800, melemah sekitar 7,5 persen dan sudah terkoreksi lebih dari 40 persen dibandingkan rekor tertingginya di sekitar US$126.000 pada Oktober lalu.
Sebelumnya, Bitcoin telah menembus ke bawah level US$73.000 pada Selasa, yang menjadi posisi terendah dalam sekitar 16 bulan terakhir dan mendekati level sebelum pemilu Amerika Serikat. Analis Citi menilai area US$70.000 merupakan zona krusial yang perlu dicermati seiring berlanjutnya tren penurunan harga aset kripto.
Tekanan terhadap Bitcoin dipicu oleh kombinasi sentimen geopolitik dan ekonomi global. Investor global mulai mengurangi eksposur pada aset berisiko di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa, menyusul manuver Presiden AS Donald Trump terkait Greenland. Situasi tersebut diperparah oleh berakhirnya penutupan sebagian pemerintahan AS yang sebelumnya menunda rilis sejumlah data ekonomi penting.
Pasar juga menaruh perhatian pada potensi perubahan kebijakan moneter AS setelah Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve. Perlambatan upaya pembentukan regulasi dan legislasi yang lebih ramah terhadap kripto di AS turut memperburuk sentimen pasar.
Deutsche Bank mencatat arus keluar dana institusional dalam jumlah besar telah menggerus likuiditas pasar kripto. Kondisi ini dipicu oleh ekspektasi koreksi harga Bitcoin yang lebih dalam, serta berlanjutnya arus keluar dari produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot.
Sepanjang Januari, ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar lebih dari US$3 miliar, setelah sebelumnya kehilangan sekitar US$2 miliar pada Desember dan sekitar US$7 miliar pada November. Tekanan ini terjadi pasca gelombang likuidasi besar pada posisi kripto dengan leverage tinggi pada Oktober lalu.
Pelemahan harga Bitcoin turut menyeret saham-saham terkait kripto. Saham Strategy sebagai perusahaan treasury Bitcoin melemah sekitar 5 persen, sementara saham penambang aset digital seperti Riot Platforms dan MARA Holdings anjlok hampir 11 persen pada perdagangan yang sama.(sy)


















Tinggalkan Balasan