Musim hujan sering menjadi momen meningkatnya kasus influenza. Di tengah kondisi tersebut, dua jenis flu yang paling sering muncul—yakni influenza A dan influenza B—perlu lebih dipahami agar masyarakat dapat melakukan pencegahan secara tepat. Meski sama-sama menyebabkan gejala tidak nyaman seperti demam, batuk, atau nyeri otot, keduanya memiliki karakteristik yang cukup berbeda.

Para ahli penyakit menular menjelaskan bahwa influenza A merupakan jenis virus yang cenderung lebih mudah bermutasi. Kondisi ini membuatnya memiliki potensi lebih besar memicu epidemi. Di Amerika Serikat, peningkatan kasus influenza A mulai terlihat, terutama varian H3N2 subclade K yang kini mendominasi. Virus ini juga dapat menjangkit manusia dan hewan, sehingga penyebarannya lebih luas.

Sementara influenza B, meski masih beredar, memiliki pola penularan yang berbeda. Virus ini hanya menyebar antarmanusia dan mutasinya cenderung lebih lambat. Para pakar menyebut bahwa influenza B terbagi menjadi dua garis keturunan, yaitu B/Yamagata dan B/Victoria. Karena ritme perubahannya lebih stabil, influenza B jarang menyebabkan epidemi besar seperti tipe A.

Meski demikian, gejala yang ditimbulkan kedua virus ini nyaris sama—mulai dari demam, sakit kepala, hingga hidung tersumbat. Pada anak-anak, muntah dan diare juga bisa muncul. Dokter menilai influenza A cenderung menyebabkan penyakit lebih berat, terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis. Oleh karena itu, pengawasan medis yang lebih ketat sering dilakukan pada kasus influenza A.

Menentukan jenis influenza tidak dapat dilakukan hanya dengan melihat gejala. Pemeriksaan medis seperti rapid test atau PCR diperlukan agar diagnosis tepat. Kondisi lingkungan juga berpengaruh; jika suatu wilayah tengah mengalami lonjakan influenza A, kemungkinan paparan terhadap tipe tersebut ikut meningkat.

Untuk mengatasi flu, obat antivirus seperti baloxavir marboxil dinilai efektif membantu melawan infeksi influenza A maupun B. Obat ini tidak serta-merta menghilangkan gejala, tetapi membantu mempercepat pemulihan. Selain itu, istirahat yang cukup, memperbanyak cairan, dan mengonsumsi obat penurun demam tetap menjadi bagian penting dari perawatan.

Pencegahan influenza terbaik hingga saat ini tetap melalui vaksinasi. Pakar kesehatan menyebut vaksin influenza disesuaikan setiap tahun untuk menyesuaikan diri dengan virus yang beredar. Tahun ini, terdapat kekhawatiran soal kecocokan vaksin terhadap subclade K, namun vaksin tetap dianggap sebagai perlindungan penting untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit. Pada kelompok usia 2–17 tahun, efektivitasnya bahkan dapat mencapai sekitar 75 persen.

Walaupun tidak bisa memberikan perlindungan sempurna, vaksin influenza tetap menjadi langkah preventif yang paling direkomendasikan, terutama di musim hujan yang rawan penyebaran penyakit. (selsy).