Rabu (03/12/2025), semakin banyak orang mengaku kesulitan menurunkan berat badan meski sudah menjalani diet dengan ketat. Salah satu penyebabnya diduga datang dari kebiasaan yang sering tak disadari, yaitu tidak mampu membedakan antara lapar yang benar-benar berasal dari kebutuhan tubuh dan lapar yang muncul karena emosi.

Fenomena ini disebut cukup umum terjadi. Banyak orang merasakan lapar tiba-tiba, padahal tubuh belum tentu membutuhkan makanan. Dorongan makan tersebut sering dipengaruhi stres, rasa bosan, atau keinginan mencari kenyamanan, sehingga tanpa sadar seseorang bisa makan lebih banyak dari yang diperlukan.

Ahli kesehatan menyebutkan bahwa diet yang baik bukan soal menahan lapar secara ekstrem. Pola tersebut justru berisiko menurunkan metabolisme, membuat tubuh cepat lelah, hingga memicu perilaku makan yang tidak teratur. Karena itu, mengenali sinyal tubuh menjadi langkah penting agar pola makan tetap seimbang.

Beberapa cara sederhana bisa membantu membedakan dua jenis lapar ini. Lapar fisik umumnya datang perlahan dan disertai tanda-tanda seperti perut keroncongan atau berkurangnya fokus. Sementara lapar emosional muncul mendadak dan sering membuat seseorang menginginkan makanan tertentu, terutama yang manis atau gurih.

Konsumsi makanan berserat disebut dapat membantu menjaga rasa kenyang lebih stabil. Minum air sebelum makan juga bisa menjadi cara aman untuk memastikan apakah tubuh benar-benar membutuhkan asupan. Jika rasa lapar hilang setelah beberapa menit, kemungkinan besar itu hanya sinyal palsu dari tubuh.

Pola makan yang terlalu tidak teratur juga dinilai dapat memicu lapar emosional. Makan dalam porsi wajar namun lebih sering dapat membantu menjaga gula darah tetap stabil. Memastikan asupan protein tetap cukup—seperti dari telur, ikan, atau sumber nabati—bisa membantu tubuh merasa kenyang lebih lama.

Selain itu, mengurangi konsumsi makanan manis dianggap dapat menekan keinginan makan berlebihan. Kadang, ketika emosi muncul, perhatian dapat dialihkan dengan aktivitas ringan seperti berjalan sebentar, membaca, atau melakukan hobi yang menenangkan.

Kurang tidur juga disebut terkait dengan peningkatan hormon pemicu rasa lapar. Istirahat cukup antara 7-9 jam dinilai dapat membantu menjaga keseimbangan hormon dan mengurangi kecenderungan makan berlebihan pada malam hari.

Memahami perbedaan antara lapar fisik dan emosional dapat membantu siapa pun membuat keputusan makan yang lebih sehat. Para pakar mengingatkan bahwa setiap tubuh memiliki kebutuhan berbeda. Jika ingin menjalani pola makan yang lebih aman, konsisten, dan sesuai kondisi tubuh, disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli gizi. (selsy).