AirNav Hadirkan Sistem Navigasi Modern di Bandara Banyuwangi
Banyuwangi terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat penerbangan penting di kawasan timur Pulau Jawa. Untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas layanan penerbangan, AirNav Indonesia berencana memasang sistem navigasi modern di Bandara Banyuwangi. Sistem tersebut mencakup Instrument Landing System (ILS) dan Doppler Very High Frequency Omni-directional Range (DVOR), dua perangkat vital dalam dunia penerbangan modern.
Langkah ini diharapkan mampu membuat proses pendaratan pesawat lebih presisi, terutama ketika jarak pandang terbatas akibat cuaca buruk atau kabut tebal.
Meningkatkan Keselamatan dan Ketepatan Pendaratan
Pemasangan sistem navigasi Bandara Banyuwangi menjadi bagian dari upaya AirNav untuk memastikan seluruh operasional penerbangan di wilayah tersebut berjalan aman dan efisien.
Dengan teknologi ILS, pilot dapat mendarat tepat di tengah landasan pacu dengan sudut kemiringan yang ideal, bahkan dalam kondisi visibilitas rendah. Sementara DVOR berfungsi sebagai pemandu arah bagi pesawat menuju bandara, memastikan penerbangan tiba dengan rute dan posisi yang tepat.
Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avrianto Suratno, menjelaskan bahwa penerapan sistem navigasi ini akan memberikan lompatan besar dalam peningkatan keselamatan penerbangan di Banyuwangi.
“Peralatan ini akan meminimalkan risiko gagal mendarat, bahkan ketika cuaca tidak bersahabat. Kami ingin menjadikan Bandara Banyuwangi sebagai salah satu bandara dengan standar keselamatan terbaik di Indonesia,” ujar Avrianto.
Dukungan Penuh Pemerintah Daerah
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut positif langkah modernisasi sistem navigasi ini. Menurutnya, peningkatan fasilitas navigasi udara tidak hanya berdampak pada keselamatan, tetapi juga berpotensi menarik lebih banyak maskapai untuk membuka rute ke Banyuwangi.
“Sistem navigasi ini akan meningkatkan pelayanan penerbangan secara signifikan. Kami optimistis ke depannya semakin banyak maskapai yang berminat menambah rute ke Banyuwangi,” kata Ipuk usai pertemuan dengan AirNav Indonesia.
Ipuk menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mendukung penuh langkah AirNav dalam memasang sistem navigasi modern tersebut, karena selaras dengan upaya Pemkab Banyuwangi mengembangkan sektor pariwisata dan investasi.
Rincian Teknologi Tiga Komponen Utama ILS
Manajer Fasilitas Teknik AirNav Cabang Surabaya, An Naufal, menjelaskan bahwa dalam sistem ILS akan terdapat tiga komponen utama:
Localizer, berfungsi memberikan informasi posisi pesawat terhadap sumbu tengah landasan pacu (runway centerline).
Glide Path, memastikan pesawat melakukan pendaratan dengan sudut kemiringan ideal sebesar tiga derajat.
Middle Marker, membantu pilot memperkirakan jarak pesawat terhadap titik pendaratan.
Ketiga komponen tersebut akan bekerja secara simultan untuk membantu pilot mendapatkan panduan pendaratan yang akurat, sehingga proses approach dan landing berjalan mulus.
Menurut Naufal, kehadiran sistem navigasi Bandara Banyuwangi akan menjadi nilai tambah besar bagi operasional penerbangan di wilayah itu.
“Selain meningkatkan keselamatan, teknologi ini juga membuat Bandara Banyuwangi lebih menarik bagi maskapai komersial yang ingin memperluas jaringan penerbangan mereka,” ujar Naufal.
Mendukung Pendidikan Penerbangan di Banyuwangi
Tak hanya untuk penerbangan komersial, sistem navigasi modern ini juga akan memberikan manfaat langsung bagi dunia pendidikan penerbangan di Banyuwangi.
Di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini berdiri dua sekolah penerbangan terkemuka, yakni Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi dan Bali International Flight Academy (BIFA).
Kehadiran ILS dan DVOR akan memperkaya proses pelatihan siswa pilot, karena mereka dapat berlatih dengan sistem navigasi berstandar internasional.
“Teknologi ini akan sangat membantu siswa kami memahami prosedur pendaratan instrumen yang selama ini hanya bisa mereka pelajari di bandara besar,” ungkap salah satu instruktur penerbangan di API Banyuwangi.
Dengan demikian, Bandara Banyuwangi tak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi, tetapi juga sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia penerbangan nasional.
Dampak Ekonomi dan Strategis
Modernisasi sistem navigasi Bandara Banyuwangi diyakini akan membawa efek berganda bagi perekonomian daerah. Peningkatan konektivitas udara akan memperlancar arus wisatawan, memperkuat sektor pariwisata, dan membuka peluang investasi baru di sektor logistik serta penerbangan.
Bandara Banyuwangi sendiri telah mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dengan desain ramah lingkungan dan peningkatan fasilitas, bandara ini kini menjadi salah satu bandara regional dengan pertumbuhan penumpang tercepat di Indonesia.
Pemasangan ILS dan DVOR oleh AirNav akan melengkapi infrastruktur tersebut, memastikan Banyuwangi siap bersaing dengan bandara lain di kawasan timur Jawa.
Langkah Strategis Menuju Bandara Berstandar Internasional
Pemasangan sistem navigasi canggih ini menjadi bagian dari visi jangka panjang AirNav Indonesia untuk meningkatkan kualitas layanan navigasi penerbangan di seluruh tanah air.
Avrianto menegaskan bahwa AirNav terus memperluas jangkauan sistem navigasi berbasis teknologi tinggi agar seluruh bandara di Indonesia dapat beroperasi dengan tingkat keselamatan optimal.
“Kami berkomitmen untuk menghadirkan standar layanan navigasi terbaik di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di daerah seperti Banyuwangi yang kini berkembang menjadi destinasi penerbangan penting,” ujarnya.
Langkah Maju Banyuwangi di Langit Nusantara
Dengan dukungan penuh AirNav Indonesia dan pemerintah daerah, Bandara Banyuwangi bersiap naik kelas. Kehadiran sistem navigasi modern ILS dan DVOR bukan sekadar pembaruan teknologi, tetapi simbol komitmen terhadap keselamatan, profesionalisme, dan kemajuan sektor penerbangan nasional.
Langkah ini memperkuat posisi Banyuwangi sebagai gerbang udara strategis di timur Pulau Jawa, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan pendidikan penerbangan di daerah tersebut. (selsy).
















