Media Kampung – Toko-toko mewah di pusat Kota Milan, Italia, terpaksa mengosongkan etalase mereka pada Senin (19/10) karena khawatir akan terjadi kerusuhan lebih lanjut. Langkah ini diambil setelah aksi protes berlangsung selama dua hari yang diwarnai bentrokan antara demonstran dan polisi, penjarahan toko, serta perusakan fasilitas publik.

Di distrik perbelanjaan mewah Via Montenapoleone, yang menjadi rumah bagi merek-merek terkenal seperti Chanel, Tiffany, dan Dior, banyak toko yang menutup etalase mereka sebagai langkah pencegahan. Sementara itu, aparat kepolisian terlihat berpatroli di sepanjang jalan, meskipun hanya sedikit wisatawan yang terlihat di area tersebut.

Aksi kerusuhan yang terjadi merupakan kelanjutan dari demonstrasi damai yang dimulai pada hari Sabtu, yang memprotes buruknya layanan publik dan lonjakan biaya hidup. Pada akhir pekan lalu, ratusan demonstran, yang sebagian besar diyakini masih di bawah umur, terlibat dalam pembakaran tempat sampah dan penjarahan di pusat kota.

Televisi setempat melaporkan bahwa beberapa toko yang dijarah termasuk gerai perlengkapan olahraga seperti Decathlon dan Arcteryx, serta operator telekomunikasi Vodafone. Toko-toko seperti Levis dan Under Armour juga terlihat menutupi jendela mereka dengan panel karton dan kayu.

Perdana Menteri Giorgia Meloni, yang menghadapi pemilihan umum nasional tahun depan, mengutuk kekerasan tersebut. Pada hari Senin, dia memimpin rapat dengan para menteri dan pimpinan keamanan untuk membahas langkah-langkah pencegahan yang akan diambil. Pemerintah Italia berencana untuk memperkenalkan tindakan yang diusulkan oleh kepolisian untuk mencegah dan menangani kekerasan semacam itu, dengan usulan tersebut akan dibawa ke rapat kabinet yang dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa.

Meloni juga mempertimbangkan untuk memperpanjang masa penahanan preventif bagi anak di bawah umur dan menindak tegas geng pemuda, serta mempercepat beberapa ketentuan dalam rancangan undang-undang keamanan yang sedang dibahas di parlemen.

Kepolisian Italia melaporkan telah menahan 271 anak muda selama kerusuhan di Milan pada hari Minggu, dengan 32 orang di antaranya resmi ditangkap, termasuk 23 anak di bawah umur dan 13 warga negara asing. Sebanyak 28 orang lainnya dilaporkan ke otoritas peradilan.

Kerusuhan ini mencerminkan kekacauan yang juga terjadi di negara tetangga, Prancis, di mana ratusan ribu orang turun ke jalan untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan penurunan layanan publik dalam salah satu aksi protes paling keras dalam beberapa tahun terakhir.