Media Kampung – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, masih berlangsung hingga Rabu, 21 Oktober 2026. Titik api dilaporkan berada sekitar 2-3 kilometer dari permukiman warga. Kebakaran pertama kali terpantau di Puncak Arjuno pada Jumat, 16 Oktober 2026 petang dan kini masih dalam pemantauan petugas gabungan.
Hingga saat ini, luas area yang terbakar dan penyebab kebakaran masih dalam pendataan serta penyelidikan. Ketua Tim Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Jawa Timur, Muhammad Amrul, menyatakan bahwa aktivitas masyarakat di sekitar kawasan terdampak belum mengalami gangguan secara langsung meskipun titik api relatif dekat dengan permukiman. “Jarak titik api dari permukiman warga sekitar 2-3 km dan aktivitas masyarakat sekitar tidak terdampak secara langsung,” ujar Amrul.
Perkembangan Kebakaran
Selain di kawasan Puncak Arjuno, titik api juga terpantau di wilayah Gunung Ringgit, Desa Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan pantauan petugas melalui radar Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi), kebakaran masih terdeteksi di kawasan Gunung Arjuno-Welirang. Petugas gabungan terus melakukan pemantauan untuk mengetahui perkembangan dan pergerakan titik api, serta melakukan pemetaan area terdampak.
BPBD Jawa Timur memastikan bahwa hingga Selasa, 20 Oktober 2026, belum ada laporan korban jiwa akibat karhutla ini. Namun, petugas masih melakukan pendataan untuk mengetahui total luas kawasan hutan dan lahan yang terdampak. “Luas area terbakar dalam pendataan,” kata Amrul, menambahkan bahwa belum tersedianya angka luas kebakaran membuat dampak keseluruhan peristiwa ini masih menunggu hasil pendataan di lapangan.
Penyebab dan Penanganan Kebakaran
Sementara itu, penyebab munculnya api belum diketahui secara pasti dan petugas masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui faktor yang memicu kebakaran di kawasan Gunung Arjuno-Welirang. Sebagai langkah antisipasi, jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang ditutup sementara hingga waktu yang belum ditentukan. Calon pendaki diimbau untuk memperhatikan informasi resmi dari pengelola dan instansi terkait sebelum merencanakan perjalanan ke kawasan tersebut.
Prioritas penanganan masih diarahkan pada pemantauan pergerakan api dan upaya pemadaman. Masyarakat juga diharapkan tetap waspada serta mengikuti arahan petugas jika terjadi perkembangan lebih lanjut.












