Media Kampung – Prancis tengah menghadapi tekanan di pasar keuangan akibat kekhawatiran investor mengenai kondisi politik dan fiskal negara tersebut. Aksi jual di pasar obligasi dan saham terjadi setelah gelombang demonstrasi yang berujung kerusuhan pada akhir pekan, yang menyebabkan ribuan orang ditangkap.
Lonjakan Imbal Hasil Obligasi
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun melonjak hingga 16 basis poin menjadi 4,94 persen pada Senin, mendekati level tertinggi dalam 24 tahun. Kenaikan ini menunjukkan harga obligasi turun, yang berpotensi meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Resiko dan Ketidakstabilan
Tekanan di pasar juga memperlebar selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman bertenor 10 tahun, mencapai level tertinggi dalam 14 tahun. Selisih ini menjadi indikator premi risiko yang diminta investor untuk memegang surat utang Prancis dibandingkan obligasi Jerman.
Menurut laporan yang dilansir dari The Guardian, kerusuhan akhir pekan lalu mengakibatkan sejumlah gedung publik dibakar dan ratusan toko dijarah di berbagai wilayah Prancis. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa ketidakstabilan politik dapat menghambat upaya pemerintah dalam menekan belanja dan mengurangi utang negara.
Analisis Pasar
Analis Goldman Sachs menilai risiko utang negara-negara Eropa kembali menjadi perhatian pasar. Mereka menyebut tantangan fiskal di Prancis kini tampak lebih sulit diatasi dibandingkan periode krisis utang zona euro pada 2011-2015, meskipun risiko eskalasi pasar yang tidak terkendali tampak lebih rendah.
Bank investasi tersebut juga mengingatkan bahwa kawasan euro masih memerlukan konsolidasi fiskal yang kredibel untuk menangani risiko utang negara.
Pasar Saham dan Nilai Tukar Euro
Ketidakpastian politik di Prancis juga menekan pasar saham dan nilai tukar euro. Indeks CAC 40, yang mencerminkan pergerakan saham perusahaan-perusahaan besar di Prancis, turun 1,4 persen pada Senin, melebihi penurunan indeks Stoxx 600 pan-Eropa yang melemah 1,1 persen. Euro melemah terhadap pound sterling hingga mencapai level terendah dalam 17 bulan.
Jim Reid dari Deutsche Bank mengatakan bahwa kerusuhan tersebut menambah risiko politik bagi pasar, terutama menjelang pemilihan umum 2027 yang semakin dekat, yang mungkin membuat investor semakin waspada.













