Media Kampung – Bupati Karanganyar Rober Cristanto telah menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu. Keputusan ini diambil untuk memfokuskan upaya pemadaman yang telah berlangsung selama empat hari, dimulai dari malam Sabtu (17/10).

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharjo, menyatakan bahwa penetapan status tanggap darurat ini diperlukan setelah api belum bisa dipadamkan. Sugiharjo menegaskan, “Penetapan status ini dilakukan untuk memaksimalkan upaya penanganan kebakaran yang memasuki hari keempat ini,” ujarnya pada Senin (19/10).

Sejumlah petugas gabungan dari TNI–Polri, relawan, Perhutani, Basarnas, dan unsur terkait lainnya masih berusaha memadamkan titik api di kawasan Gunung Lawu. Dalam upaya ini, telah dilakukan koordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan pemerintah provinsi.

Upaya Pemadaman

Sugiharjo juga menyampaikan bahwa jumlah titik api mulai berkurang, berdasarkan pemantauan menggunakan drone thermal. Titik api yang terpantau saat ini berada di atas Begodani, dan upaya pemadaman difokuskan dari pos induk di daerah tersebut.

Jumlah personel yang terlibat dalam penanganan karhutla cukup besar, dengan sekitar 115 personel berada di pos induk, 40 personel di Pos 2 Cemoro Kandang, dan 133 personel di Pos Tambak, termasuk tambahan dari Brimob. Sugiharjo menambahkan, “Kami memaksimalkan semua petugas,” katanya.

Kendala Pemadaman

Namun, Sugiharjo mengaku bahwa tim pemadam menghadapi kendala, antara lain kondisi medan yang terjal dan angin kencang yang menyulitkan proses pemadaman. “Kami masih menggunakan metode konvensional dalam pemadaman, seperti membuat sekat api dan menggunakan peralatan sederhana,” ungkapnya.

Data menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di lereng Gunung Lawu mencakup area seluas 100 hektare. Kapolda Jateng Irjen Pol Roy Hardi Siahaan juga mendorong penetapan status tanggap darurat saat meninjau posko penanganan karhutla di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, pada Sabtu (17/10). Ia mengapresiasi kerja keras tim yang berusaha melokalisasi pergerakan api.

“Pemadaman darat saat ini sangat terbatas karena hanya mengandalkan peralatan konvensional. Kami berusaha melokalisasi, tetapi kondisi untuk naik ke atas tidak memungkinkan dengan alat apa pun selain alat-alat manual,” ujar Roy.