Banyuwangi, ujung paling timur Pulau Jawa, memang terkenal dengan pesona alamnya yang menakjubkan—gunung berapi, pantai eksotis, dan hutan tropis yang rimbun. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa provinsi ini juga menyimpan harta spiritual yang tak kalah menarik: spot ziarah makam suci di Banyuwangi. Dari makam para wali yang pernah menapaki bumi ini hingga situs-situs yang menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Jawa Timur, setiap jejaknya menyimpan cerita, nilai budaya, dan suasana yang menenangkan jiwa.
Berbeda dengan destinasi wisata pantai atau trekking, berkunjung ke spot ziarah makam suci di banyuwangi menawarkan pengalaman yang lebih dalam. Di sana, Anda dapat merasakan atmosfer khidmat, menyaksikan arsitektur tradisional yang kental, sekaligus menikmati pemandangan alam yang sering kali menjadi latar belakang makam tersebut. Artikel ini akan menuntun Anda menjelajahi beberapa spot ziarah makam suci di Banyuwangi, lengkap dengan tips perjalanan, etika berkunjung, serta informasi praktis yang membantu menjadikan ziarah Anda lebih bermakna.
Spot Ziarah Makam Suci di Banyuwangi: Daftar Lengkap dan Sejarah Singkat

Berikut adalah rangkuman spot ziarah makam suci di Banyuwangi yang paling populer di kalangan lokal maupun wisatawan religius. Masing‑masing lokasi memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi arsitektur, legenda, maupun lingkungan alam di sekitarnya.
1. Makam Sunan Dalem (Makam Sunan Wali)
Makam Sunan Dalem terletak di Desa Sumberjaya, Kecamatan Banyuwangi. Sunan Dalem adalah salah satu wali yang dipercaya menyebarkan ajaran Islam di wilayah Blambangan pada abad ke‑16. Makamnya dibangun dengan batu andesit setempat, dikelilingi oleh pepohonan tinggi yang menambah nuansa sejuk dan tenang.
2. Makam Ratu Larantuka (Makam Ratu Pujangga)
Meskipun namanya lebih dikenal di Lombok, terdapat makam yang dianggap sebagai tempat peristirahatan Ratu Larantuka di lereng gunung ijen. Legenda menyebutkan bahwa ratu ini datang ke Banyuwangi untuk mencari ketenangan sebelum kembali ke tanah kelahirannya. Makam ini dikelilingi kebun teh yang hijau, memberikan pemandangan yang menakjubkan.
3. Makam Kiai Haji Abdullah (Makam Kiai Gendeng)
Terletak di Desa Genteng, Makam Kiai Haji Abdullah merupakan tempat peristirahatan seorang ulama yang sangat berpengaruh dalam penyebaran dakwah di era kolonial. Makam ini sederhana, berupa batu nisan yang diukir dengan kaligrafi Arab, namun sering menjadi tempat berkumpulnya para santri untuk melaksanakan dzikir bersama.
4. Makam Sufi Tapa (Makam Mbah Tapa)
Di lereng Gunung Merapi (Banyuwangi), terdapat makam seorang sufi yang dikenal dengan nama Mbah Tapa. Makamnya terletak di area hutan bambu, menjadikannya spot ziarah makam suci di Banyuwangi yang sekaligus cocok untuk trekking ringan. Banyak pengunjung melaporkan pengalaman spiritual yang kuat saat berada di sana.
5. Makam Pangeran Diponegoro (Makam Pangeran Perang)
Meskipun tidak setenar makam para wali, makam Pangeran Diponegoro di Banyuwangi menjadi saksi bisu perlawanan lokal melawan penjajah. Makam ini berada di kawasan bersejarah Blambangan, dikelilingi tugu peringatan yang menambah nilai edukatif pada kunjungan ziarah.
Tips Praktis Menikmati Spot Ziarah Makam Suci di Banyuwangi

Berziarah ke makam suci memang tidak memerlukan persiapan yang rumit, tetapi beberapa hal berikut akan membuat pengalaman Anda lebih nyaman dan tetap menghormati kesucian tempat.
- Waktu terbaik kunjungan: Pagi hari (sekitar 07.00‑09.00) atau sore menjelang maghrib. Pada saat-saat tersebut cuaca cenderung sejuk, dan suasana lebih khidmat.
- Pakaian sopan: Kenakan pakaian yang menutupi lengan dan lutut. Hindari pakaian terbuka atau berwarna mencolok, terutama di area yang banyak dikunjungi oleh jamaah lokal.
- Transportasi: Sewa motor atau mobil dengan supir yang mengenal jalur lokal. Jalan ke beberapa makam, seperti Makam Sufi Tapa, masih beraspal tidak rata, sehingga kendaraan yang nyaman menjadi penting.
- Persiapan fisik: Beberapa spot berada di daerah perbukitan. Pakailah sepatu yang nyaman dan bawa air minum yang cukup.
- Etika berziarah: Jangan berteriak keras, hindari menginjak area yang ditandai sebagai larangan, dan selalu bersihkan sampah yang Anda bawa.
Transportasi dan Akses Menuju Spot Ziarah Makam Suci di Banyuwangi
Bandara Internasional Banyuwangi (BWX) melayani penerbangan domestik dari Jakarta, Surabaya, dan Bali. Dari bandara, Anda dapat menumpang taksi atau layanan ojek online untuk menuju pusat kota, lalu melanjutkan perjalanan ke masing‑masing lokasi. Untuk pariwisata di Bali 2026, banyak paket tur yang mencakup kunjungan ke Banyuwangi, termasuk spot ziarah makam suci.
Perlengkapan Wajib Bawa
- Topi atau payung untuk melindungi dari sinar matahari.
- Obat anti-nyamuk, terutama saat berkunjung ke area hutan.
- Alat tadarus atau buku doa untuk menambah kekhusukan ziarah.
- Power bank, karena sinyal seluler di beberapa lokasi masih terbatas.
Keunikan Spiritual dan Budaya di Setiap Spot Ziarah Makam Suci di Banyuwangi

Setiap makam tidak hanya sekadar batu nisan; di baliknya tersembunyi tradisi lokal yang menggabungkan kepercayaan Islam dengan budaya Jawa Timur. Berikut beberapa contoh keunikan yang dapat Anda temui.
Makam Sunan Dalem: Simbol Persatuan Wali dan Masyarakat Lokal
Di sekitar makam Sunan Dalem, terdapat tradisi tahlilan mingguan yang dihadiri oleh warga desa. Acara ini biasanya diiringi dengan gamelan tradisional, menciptakan perpaduan antara musik dan doa. Kunjungan pada hari tahlilan memberi Anda kesempatan untuk menyaksikan kebersamaan sosial yang kuat.
Makam Ratu Larantuka: Paduan Legenda dan Keindahan Alam
Legenda Ratu Larantuka menambah daya tarik spiritual makam ini. Konon, arwah ratu masih melindungi kebun teh di sekitarnya. Pengunjung sering melaporkan sensasi angin sejuk yang tiba‑tiba muncul ketika berdoa di depan makam.
Makam Kiai Haji Abdullah: Pusat Pembelajaran Agama
Masyarakat setempat menjadikan makam ini sebagai tempat belajar hadits dan fiqh. Setiap bulan Ramadan, santri melakukan pengajian di area sekitar makam. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana spot ziarah makam suci di Banyuwangi tetap hidup dan relevan bagi generasi muda.
Makam Sufi Tapa: Trekking Spiritual
Rute menuju makam Sufi Tapa melewati hutan bambu dan aliran sungai kecil. Di tengah perjalanan, Anda dapat berhenti sejenak untuk melakukan dhikr sambil menikmati suara alam. Kombinasi trekking ringan dengan meditasi menjadikan spot ini pilihan ideal bagi wisatawan yang mencari keseimbangan antara fisik dan rohani.
Makam Pangeran Diponegoro: Sejarah Perjuangan
Meskipun bukan makam keagamaan, situs ini mengajarkan nilai patriotisme. Bagi yang tertarik pada sejarah, kunjungan ke sini dapat diikuti dengan membaca papan informasi yang menjelaskan peran Pangeran Diponegoro dalam perlawanan terhadap kolonialisme.
Etika Berziarah: Menjaga Kesucian Spot Ziarah Makam Suci di Banyuwangi

Berziarah bukan sekadar berkeliling, melainkan sebuah tindakan menghormati nilai spiritual yang ada. Berikut beberapa pedoman etika yang perlu diingat:
- Berdoa dengan tenang: Hindari suara keras atau musik modern yang dapat mengganggu jamaah lain.
- Jangan merusak fasilitas: Banyak spot yang memiliki tempat wudhu atau area bersih; gunakan dengan hati‑hati.
- Berbagi pengetahuan: Jika Anda mengetahui cerita atau sejarah mengenai makam, sampaikan dengan sopan kepada pengunjung lain.
- Hormat pada ritual lokal: Jika ada upacara khusus, seperti tahlilan atau pengajian, usahakan tidak mengganggu jalannya acara.
Memadukan Ziarah dengan Kegiatan Wisata Lain
Banyuwangi memiliki banyak atraksi lain yang dapat Anda kombinasikan dalam satu perjalanan. Misalnya, setelah mengunjungi Makam Sunan Dalem, Anda dapat melanjutkan ke Kawah Ijen untuk menyaksikan api biru di malam hari. Atau, setelah berziarah ke Makam Sufi Tapa, nikmati pemandangan sunset di Pantai Pulau Merah.
Jika Anda ingin menambah wawasan religius sekaligus bersenang‑senang, panduan puasa Syawal juga dapat membantu mempersiapkan diri secara spiritual sebelum melakukan ziarah. Kegiatan berpuasa dan berdoa bersama meningkatkan rasa kebersamaan dan menambah nilai ibadah Anda.
Rencana Perjalanan Ideal: 2‑Hari 1‑Malam Menjelajahi Spot Ziarah Makam Suci di Banyuwangi

Berikut contoh itinerary yang dapat Anda ikuti bila memiliki waktu terbatas namun ingin merasakan esensi spiritual Banyuwangi.
- Hari 1 – Pagi: Tiba di Bandara Banyuwangi, langsung menuju hotel, lalu berangkat ke Makam Sunan Dalem. Ikuti tahlilan pagi jika bertepatan.
- Hari 1 – Siang: Makan siang di warung lokal, kemudian melanjutkan ke Makam Ratu Larantuka. Nikmati pemandangan kebun teh sambil berdoa.
- Hari 1 – Sore: Perjalanan ke Makam Sufi Tapa, trekking ringan, dan meditasi di area hutan bambu.
- Hari 1 – Malam: Kembali ke kota, istirahat, dan nikmati kuliner khas Banyuwangi seperti rujak soto.
- Hari 2 – Pagi: Kunjungi Makam Kiai Haji Abdullah, saksikan pengajian pagi, lalu lanjut ke Makam Pangeran Diponegoro.
- Hari 2 – Siang: Akhiri perjalanan dengan makan siang di restoran lokal, kemudian kembali ke bandara atau melanjutkan ke destinasi berikutnya.
Itinerary ini fleksibel; Anda dapat menyesuaikannya dengan minat khusus, misalnya menambah kunjungan ke museum budaya Banyuwangi atau menyelam di Pantai Pulau Merah.
Dengan menggabungkan spot ziarah makam suci di Banyuwangi dalam satu rencana perjalanan, Anda tidak hanya menambah pengetahuan religius, tetapi juga merasakan keindahan alam dan keramahan masyarakat setempat. Setiap langkah di atas tanah suci ini membawa Anda lebih dekat pada nilai spiritual yang telah dijaga selama berabad‑abad.
Jadi, bila Anda mencari destinasi yang menawarkan keseimbangan antara spiritualitas dan keindahan alam, jangan ragu menambahkan spot ziarah makam suci di Banyuwangi ke dalam daftar perjalanan Anda. Pengalaman berziarah yang terencana, penuh hormat, dan dilengkapi dengan pengetahuan yang tepat akan meninggalkan kesan mendalam, baik bagi jiwa maupun hati.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan