Media Kampung – 30 Maret 2026 | Seorang remaja berusia 14 tahun dari Pangandaran, Luthfi Fadilah, dilaporkan hilang setelah terseret arus kuat di Pantai Timur pada Sabtu, 28 Maret 2026, memicu operasi pencarian gabungan SAR, Basarnas, TNI Angkatan Laut, dan relawan penyelam.
Tim SAR menemukan jasadnya pada malam harinya, 27 Maret, terperangkap dalam jaring penyekat sekitar 500 meter dari titik kejadian, menegaskan bahaya arus yang tak terduga di perairan pantai selatan.
Sementara itu, di Muara Sungai Bondoyudo, Lumajang, remaja 15 tahun bernama Vardan Afgani juga hilang setelah air pasang tiba‑tiba meningkat saat ia sedang mandi bersama teman‑temannya pada pukul 13.00 WIB, Sabtu 28 Maret.
Kepala Kantor SAR Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyatakan operasi pencarian hari kedua masih berlangsung meski cuaca cerah, karena arus muara tetap menantang dan dapat berubah dengan cepat.
Di Pantai Watu Bale, Kebumen, tiga wisatawan berusia 15‑16 tahun terjerat ombak besar pada pagi hari, 29 Maret; dua di antaranya berhasil dievakuasi oleh tim SAR Lawet Perkasa, sementara satu remaja berusia 15 tahun masih dinyatakan hilang.
Petugas BPBD Kebumen, Heri Purwoto, menegaskan bahwa zona berbahaya telah ditandai dengan bendera merah, namun para pengunjung tetap melanggar peringatan hingga ombak menyeret mereka.
Insiden lain pada hari yang sama melibatkan sepuluh orang yang tersambar petir di Pantai Watu Pecak dan Pantai Bambang, Lumajang, menyebabkan satu korban meninggal dunia dan sisanya mengalami luka ringan hingga berat.
Polisi setempat, Kapolres Lumajang AKBP Ikrar Potawari, mengingatkan agar pengunjung menghindari berteduh di bangunan sementara saat cuaca buruk, karena risiko sambaran petir yang tinggi.
Para pejabat menekankan pentingnya kepatuhan pada rambu keselamatan, termasuk tidak melewati batas aman yang ditandai bendera merah, serta menghindari berenang di zona muara saat pasang naik.
Operasi pencarian terus melibatkan nelayan setempat, koramil, dan relawan, dengan penggunaan jaring penyekat, perahu penangkap, serta pemantauan sonar untuk mengidentifikasi lokasi korban yang belum ditemukan.
Hingga akhir Minggu, 29 Maret, korban di Pangandaran dan Lumajang masih dinyatakan hilang, sementara tim SAR tetap melakukan penyisiran intensif di perairan yang bergejolak.
Kejadian beruntun ini menyoroti risiko alam yang tinggi di pesisir Jawa, menggarisbawahi perlunya edukasi keselamatan laut dan penegakan regulasi yang lebih ketat demi melindungi pengunjung pantai.
Pengawasan akan terus ditingkatkan, dengan harapan kejadian serupa dapat diminimalisir melalui kesadaran publik dan respons cepat aparat dalam situasi darurat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan