Media Kampung – 23 Maret 2026 | Profesor Umar Shihab meninggal dunia pada 20 Maret 2026 di usia 86 tahun.
Beliau dikenal sebagai pendiri Yayasan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar serta mantan Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia.
Lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 2 Juli 1939, ia tumbuh dalam keluarga ulama yang menekankan pentingnya ilmu.
Ayahnya, Abdurrahman Shihab, adalah ulama dan perintis pendidikan Islam modern di wilayah timur Indonesia.
Saudara-saudaranya meliputi Quraish Shihab, Alwi Shihab, dan Nizar Shihab, masing‑masing menorehkan prestasi di bidang tafsir, diplomasi, dan kedokteran.
Umar Shihab menempuh pendidikan tinggi di Universitas Al‑Azhar, Kairo, di mana ia memperdalam ilmu klasik sekaligus berinteraksi dengan keberagaman pemikiran Muslim.
Pengalaman di Al‑Azhar membentuk pandangannya yang moderat, inklusif, dan dialogis terhadap tantangan zaman.
Setelah kembali ke Indonesia, ia mengabdikan diri pada dunia akademik, mengajar di IAIN Ujung Pandang (sekarang UIN Alauddin Makassar).
Ia juga membina generasi mahasiswa yang kemudian menjadi tokoh intelektual dan aktivis sosial.
Hafid Abbas, guru besar UNJ, menilai kepergian Umar Shihab sebagai penanda berakhirnya satu mata rantai tradisi keilmuan Islam Indonesia Timur.
“Prof. Umar selalu menjadi jembatan antara teks dan konteks, serta antara nilai lokal Bugis dan wawasan global,” ujarnya dalam refleksi singkat.
Saudaranya, Halim Abbas, yang pernah menjadi mahasiswa Umar pada era 1970‑an, menambahkan bahwa sang profesor lebih memilih kerja di balik layar dibanding sorotan publik.
Keberadaan Umar Shihab jarang muncul dalam headline, namun pengaruhnya terasa kuat di kalangan akademisi dan aktivis keagamaan.
Berita tentang kematiannya juga dimuat oleh portal nasional Detik.com, yang menempatkannya di antara tokoh penting yang wafat pada hari itu.
Detik.com mencatat bahwa pada 21 Maret 2026, media lain melaporkan kematian tokoh publik seperti aktor Chuck Norris dan pengusaha Michael Bambang Hartono.
Meski berita‑berita tersebut tidak berhubungan langsung, mereka mencerminkan intensitas liputan media pada tanggal tersebut.
Pada hari yang sama, Kompas.com menyoroti momen Idul Fitri di Lapas Palopo, menekankan nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip yang selalu diusung oleh Umar Shihab dalam karya‑karyanya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam penegakan hukum dan kebijakan sosial.
Warisan pemikiran moderasinya terus menjadi rujukan bagi para peneliti dan praktisi kebijakan publik.
Mahasiswa dan alumni UMI berencana menggelar acara kenangan yang menampilkan ceramah singkat serta pemutaran rekaman kuliah lama.
Acara tersebut diharapkan menjadi ajang refleksi atas kontribusi akademik dan moral sang guru.
Berbagai tulisan Umar Shihab tentang toleransi dan dialog antar‑umat tetap menjadi bahan bacaan di fakultas‑fakultas keagamaan.
Ia berhasil mengintegrasikan nilai budaya Bugis dengan perspektif Islam universal, menjadikan ilmu sebagai alat pembangunan sosial.
Pendekatan interkulturalnya memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan tradisi pluralisme yang hidup.
Selama menjabat di MUI, ia mendorong kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan keagamaan dengan dinamika demokrasi.
Pengaruhnya terasa dalam keputusan-keputusan yang menekankan kebebasan berpendapat serta perlindungan minoritas.
Kematiannya terjadi tak lama setelah ia merayakan ulang tahunnya yang ke‑86, menambah kesan mendalam bagi keluarga.
Saudara‑saudaranya menyampaikan rasa duka sekaligus kebanggaan atas jejak yang telah ditinggalkan.
Umar Shihab meninggalkan koleksi risalah, buku, dan artikel yang terus dipelajari di perguruan tinggi seluruh Indonesia.
Para peneliti menilai bahwa karya‑karya tersebut menjadi landasan bagi studi Islam kontemporer.
Kesimpulannya, kepergian Prof. Umar Shihab menandai hilangnya sosok intelektual yang menjembatani tradisi dan modernitas, ilmu dan kemanusiaan.
Semangat moderasi, pendidikan, dan pelayanan masyarakat yang ia anut tetap menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan