Samsung masih mempertahankan status sebagai merek televisi nomor satu dunia pada November 2025. Namun, dominasi tersebut kini berada di bawah tekanan serius seiring laju pertumbuhan TCL yang kian agresif dan membuat jarak keduanya semakin tipis di pasar TV global.
Berdasarkan laporan Counterpoint Research, pengapalan televisi global pada November 2025 tercatat turun 1 persen secara tahunan. Angka ini menjadi pembalikan tren setelah pasar sempat mencatat pertumbuhan positif dalam dua bulan sebelumnya. Meski pasar melemah, pergerakan masing-masing merek utama justru menunjukkan arah yang berbeda.
Samsung memimpin dengan pangsa pasar 17 persen, meskipun turun sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari sisi volume, pengapalan raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut tercatat menyusut 3 persen secara tahunan.
Di posisi kedua, TCL terus menekan dengan pangsa pasar 16 persen. Produsen asal China itu justru mencatat kenaikan pangsa sebesar 3 persen, ditopang lonjakan pengapalan hingga 20 persen secara tahunan. Capaian tersebut membuat TCL semakin dekat untuk menyalip Samsung sebagai pemimpin pasar.
Hisense menempati posisi ketiga dengan pangsa pasar 10 persen, namun mengalami penurunan 2 persen secara tahunan. LG menyusul di peringkat keempat dengan 9 persen pangsa pasar dan mencatat kenaikan tipis 1 persen. Walmart melengkapi lima besar dengan porsi 5 persen dan pertumbuhan 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Counterpoint mencatat, pertumbuhan pesat TCL terutama didorong oleh performa kuat di pasar berkembang seperti Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika. Strategi harga agresif yang dipadukan dengan teknologi MiniLED dinilai mampu menarik konsumen dan meningkatkan daya saing TCL terhadap merek-merek mapan seperti Samsung dan LG.
Selain itu, langkah strategis TCL melalui kesepakatan joint venture dengan Sony juga diperkirakan memberi dampak signifikan ke depan. Pada awal Januari 2026, Sony menandatangani nota kesepahaman untuk menyerahkan kendali bisnis home entertainment kepada TCL. Dalam struktur tersebut, TCL menguasai 51 persen saham, sementara Sony memegang 49 persen. Perusahaan patungan ini ditargetkan mulai beroperasi pada April 2027, dengan pengapalan tetap dihitung atas nama TCL meski produk dipasarkan menggunakan merek Sony dan Bravia.
Di sisi lain, penurunan kinerja Hisense sebagian besar disebabkan melemahnya pasar domestik China. Pengapalan Hisense di negeri asalnya tercatat anjlok hingga 24 persen secara tahunan. LG relatif terbantu oleh kinerja positif di Amerika Utara dan Amerika Latin, dengan pertumbuhan masing-masing mencapai 8 persen dan 29 persen.
Walmart juga mencatat momentum penting setelah menyelesaikan akuisisi Vizio senilai sekitar 2,3 miliar dolar AS pada Desember 2024. Langkah tersebut memperkuat posisi Walmart sebagai salah satu pesaing utama Samsung di pasar Amerika Utara.
Dengan tren pertumbuhan TCL yang konsisten dan tekanan pasar yang dihadapi Samsung, persaingan menuju posisi puncak pasar TV global diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa waktu ke depan. (balqis)

















Tinggalkan Balasan