Robot pengantaran CARRIE BRIN dikembangkan sebagai solusi atas tantangan pengantaran dan pemindahan barang yang masih dihadapi berbagai industri lokal. Tingginya ketergantungan pada tenaga manusia, terutama di area dengan medan tidak rata, ruang terbatas, dan lalu lintas padat, dinilai berdampak pada efisiensi operasional serta meningkatkan risiko keselamatan kerja.
Menjawab kondisi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merancang CARRIE atau Collaborative Autonomous Robot for Rugged Industrial Environment, sebuah robot pengantaran barang yang mampu beroperasi secara otonom dan kolaboratif di lingkungan industri yang kompleks. Robot ini dikembangkan untuk membantu proses distribusi material tanpa bergantung pada jalur tetap.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, Roni Permana Saputra, menjelaskan bahwa CARRIE sebagai autonomous mobile robot dibekali platform mekanik adaptif. Teknologi ini memungkinkan robot menyesuaikan diri dengan permukaan jalan yang tidak rata dan berbagai rintangan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja, mengurangi beban tenaga manusia, serta meminimalkan risiko kecelakaan kerja.
Menurut Roni, tantangan operasional pengantaran barang di industri bersifat dinamis dan sulit diprediksi. Berbagai rintangan seperti bidang miring, gundukan, perbedaan ketinggian, hingga perubahan tata letak area produksi dan pergudangan kerap menyulitkan sistem pengantaran konvensional untuk beroperasi secara optimal.
Ia menambahkan, sebagian besar sistem transportasi material berbasis robot masih mengandalkan guided vehicle yang bergerak mengikuti jalur fisik di lantai industri. Ketergantungan ini membuat sistem kurang fleksibel dan memerlukan penyesuaian ulang ketika terjadi perubahan layout, yang berdampak pada waktu, biaya, dan kelancaran operasional.
CARRIE dirancang untuk mengatasi keterbatasan tersebut melalui pemetaan lingkungan dan navigasi otonom. Robot ini tidak bergantung pada jalur fisik dan mampu menyesuaikan rute operasinya sesuai perubahan kondisi lapangan. Selain itu, desain mekanik adaptif memungkinkan CARRIE melintasi perbedaan ketinggian, tanjakan, hingga permukaan bergelombang dengan tetap menjaga stabilitas dan keamanan muatan.
Dari sisi teknis, CARRIE mengintegrasikan mekanisme swing arm yang menggabungkan dua platform dengan sambungan rotasi bebas. Setiap bagian dapat menyesuaikan diri mengikuti kontur permukaan, sehingga robot tetap stabil saat melintasi medan miring atau tidak rata. Sementara itu, sistem kecerdasan buatan memanfaatkan algoritma perencanaan jalur untuk menentukan rute paling aman dan efisien berdasarkan peta lingkungan.
Persepsi lingkungan secara real-time didukung sensor LiDAR yang memungkinkan CARRIE mendeteksi rintangan dan menyesuaikan pergerakan selama beroperasi. Sistem navigasi dan kontrol bekerja simultan untuk menjaga keseimbangan, mengatur kecepatan, serta merespons perubahan medan secara dinamis.
Dalam konteks kolaborasi, CARRIE dirancang sebagai asisten otonom yang dapat bekerja berdampingan dengan manusia maupun terintegrasi dengan sistem otomasi lain, seperti conveyor belt. Peran ini diharapkan mampu mengurangi beban kerja manual sekaligus menekan risiko kecelakaan di area industri.
Berdasarkan hasil uji coba di sejumlah fasilitas BRIN, CARRIE dinilai mampu beroperasi dengan baik di medan yang menantang. Roni menyebut robot ini diproyeksikan menjadi platform autonomous mobile robot yang adaptif dan kolaboratif, serta siap dihilirkan untuk mendukung kemandirian teknologi robotika dan otomasi industri nasional.(balqis)
















Tinggalkan Balasan