JAKARTA — Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi bahwa misi Artemis II telah memasuki fase krusial seiring dimulainya pemindahan infrastruktur peluncuran utama. Langkah ini menandai semakin dekatnya kembalinya manusia ke Bulan, lebih dari lima dekade setelah misi Apollo terakhir pada 1972.
NASA menargetkan peluncuran Artemis II dapat dilakukan paling cepat pada Kamis (6/02/2026). Manajemen badan antariksa tersebut menyebut percepatan jadwal ini mencerminkan kesiapan tim setelah melewati berbagai pengujian sistem dan evaluasi teknis.
Sebagai bagian dari tahapan akhir, NASA menjadwalkan latihan gladi bersih pada akhir Januari 2026. Latihan ini bertujuan memastikan seluruh prosedur peluncuran berjalan sesuai rencana sebelum misi berawak benar-benar dijalankan.
Dalam pernyataan resminya yang disampaikan Senin (12/01/2026), manajemen NASA menegaskan bahwa Artemis II merupakan langkah penting menuju kembalinya misi berawak Amerika Serikat ke Bulan. Program ini juga diproyeksikan menjadi fondasi bagi kehadiran manusia secara berkelanjutan di luar angkasa serta persiapan pengiriman astronaut ke Mars di masa depan.
Saat ini, NASA tengah mempersiapkan pengangkutan roket Space Launch System (SLS) dan wahana antariksa Orion menuju lokasi peluncuran di Kennedy Space Center, Florida. Kedua komponen tersebut menjadi tulang punggung utama dalam misi Artemis II.
Misi ini akan membawa empat astronaut untuk menguji ketahanan serta kemampuan sistem kendaraan antariksa generasi terbaru milik NASA. Komandan misi dipercayakan kepada Reid Wiseman, didampingi Victor Glover dan Christina Koch dari NASA, serta Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada.
Selama misi berdurasi sekitar 10 hari, kru Artemis II akan menjalankan serangkaian uji teknis, termasuk pengujian sistem pendukung kehidupan pada wahana Orion. Pesawat tersebut dijadwalkan melintasi jarak lebih dari 6.400 kilometer menuju sisi jauh Bulan sebelum kembali ke Bumi.
Keberhasilan Artemis II dinilai akan memperkuat posisi Amerika Serikat dalam persaingan antariksa global yang semakin strategis. Kompetisi ini mencakup misi pendaratan manusia, eksplorasi ilmiah, hingga potensi pemanfaatan sumber daya luar angkasa.
Amerika Serikat saat ini menghadapi persaingan ketat dari China yang menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada 2030, serta India yang lebih dulu mencatatkan keberhasilan mendarat di wilayah kutub selatan Bulan. Di sisi lain, sektor swasta seperti SpaceX juga terus mendorong percepatan teknologi antariksa komersial. (balqis)

















Tinggalkan Balasan