Rencana merger GoTo-Grab kembali menguat setelah Patrick Sugito Walujo mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO pada akhir November lalu. Pengunduran diri itu menimbulkan dugaan bahwa proses penyatuan dua perusahaan teknologi besar tersebut sudah memasuki fase yang lebih serius.

Isu merger antara GoTo dan Grab sebenarnya telah beredar sejak 2020. Bloomberg, mengutip sumber anonim, menyebut keputusan Patrick mundur dipandang sebagai sinyal penting karena selama ini ia dianggap salah satu pihak yang kurang sejalan dengan rencana penggabungan dua perusahaan.

GoTo dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa posisi CEO akan diusulkan kepada Hans Patuwo, yang saat ini menjabat COO. Usulan tersebut akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 17 Desember mendatang. Perubahan pucuk pimpinan disebut merupakan bagian dari penataan ulang struktur perusahaan.

Dari sisi pemerintah, sinyal bahwa rencana merger GoTo-Grab sedang digodok juga makin terbuka. Menteri Sekretaris Negara sekaligus juru bicara kepresidenan, Prasetyo Hadi, pada 7 November menyebut beberapa kementerian tengah membahas potensi penyatuan perusahaan teknologi Indonesia dan Singapura tersebut. Ia juga menyinggung kemungkinan keterlibatan Danantara dalam proses tersebut.

Pernyataan itu muncul beriringan dengan penyusunan regulasi transportasi online yang menurut pemerintah bertujuan memperkuat perlindungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pengemudi ojek online. GoTo sebelumnya menegaskan mendukung kebijakan yang berpihak pada mitra pengemudi serta pelaku UMKM.

Isu kesejahteraan pengemudi semakin mengemuka setelah gelombang protes besar terjadi pada Agustus dan September, menyusul meninggalnya seorang pengemudi saat aksi demonstrasi. Para analis menilai kemampuan pengemudi menggerakkan massa kini menjadi pertimbangan politik yang signifikan, menjadikan kebijakan terkait ojol sebagai salah satu isu strategis bagi pemerintah.

Bagi GoTo, tekanan politik dan tantangan finansial diduga turut memperbesar kebutuhan untuk mencari langkah strategis baru. Sejumlah analis menilai merger dengan perusahaan yang memiliki modal dan posisi pasar kuat seperti Grab bisa menjadi jalan memperbaiki kinerja keuangan yang masih mencatatkan kerugian dalam beberapa tahun terakhir.

Hingga kini, baik GoTo maupun Grab belum memberikan kepastian resmi terkait merger. Namun berbagai sinyal menunjukkan arah pembahasan kian mengerucut. Para investor dan pelaku industri kini menunggu perkembangan lebih lanjut, yang dinilai dapat menjadi salah satu kesepakatan bisnis terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. (putri).