Fenomena langka Super Cold Moon diprediksi akan menerangi langit Indonesia pada Kamis (4/12/2025). Peristiwa ini menjadi purnama terakhir di akhir tahun, sekaligus yang paling dekat dengan Bumi. Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa istilah Cold Moon digunakan karena secara tradisi merujuk pada purnama di penghujung tahun ketika wilayah belahan utara sedang mengalami musim dingin. Ia memaparkan bahwa purnama yang terjadi bertepatan dengan posisi Bulan yang mendekat ke Bumi membuatnya digolongkan sebagai supermoon.
Super Cold Moon malam ini dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia mulai setelah Matahari terbenam hingga menjelang terbitnya Matahari pada Jumat (5/12/2025). Masyarakat disebut bisa menikmati pemandangan tersebut tanpa teleskop.
Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo, menuturkan bahwa supermoon terjadi saat Bulan mencapai titik perigee atau posisi terdekatnya dari Bumi. Pada peristiwa kali ini, perigee jatuh pada Kamis pukul 18.07 WIB dengan jarak sekitar 356.900 kilometer. Fase purnama penuh diperkirakan muncul 12 jam kemudian pada Jumat pukul 06.15 WIB. Ia menjelaskan bahwa selisih waktu kurang dari sehari antara perigee dan purnama menandakan fenomena ini termasuk kategori purnama perigean atau supermoon.
Super Cold Moon dapat disaksikan dari kota hingga pelosok desa selama kondisi cuaca mendukung. Namun, Marufin mengingatkan bahwa situasi atmosfer saat ini dipengaruhi oleh IODM negatif di Samudra Hindia barat Sumatra serta bibit badai tropis di timur Filipina, sehingga sebagian wilayah mungkin tertutup awan.
Selain keindahannya, fenomena ini juga memiliki dampak terhadap pasang laut. Marufin menjelaskan bahwa purnama perigean sering memicu pasang naik maksimum, sehingga berpotensi menimbulkan rob di sejumlah daerah pesisir dataran rendah. Beberapa lokasi yang disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan meliputi sebagian wilayah Jakarta Utara, pesisir utara Pekalongan, serta kawasan tertentu di Semarang bagian utara.
Thomas Djamaluddin juga menyampaikan bahwa pasang air laut berpotensi lebih tinggi karena purnama kali ini terjadi bersamaan dengan supermoon. Ia memaparkan bahwa peristiwa ini memiliki efek serupa dengan purnama pada umumnya, namun ketinggian pasang bisa lebih besar dari biasanya karena jarak Bulan yang lebih dekat.
Fenomena Super Cold Moon diprediksi menjadi penutup tahun yang menarik bagi pengamat langit maupun masyarakat umum. Selama cuaca cerah, masyarakat berpeluang menyaksikan pemandangan Bulan yang tampak lebih besar dan lebih terang dibanding purnama biasanya. (selsy).
















