JAKARTA — Wendy Walters mengungkapkan bahwa sebelum dikenal sebagai kreator konten, dirinya sempat menjalani kehidupan sebagai pekerja kantoran. Perempuan asal Medan itu mengawali karier profesionalnya setelah lulus sekolah dan memutuskan merantau ke Jakarta.
Pada pekerjaan pertamanya, Wendy bekerja di sektor perbankan sebagai staf pemasaran. Kesempatan tersebut ia dapatkan setelah mendapat dorongan dari kakaknya yang menjabat sebagai manajer di salah satu bank. Dari proses melamar hingga diterima, Wendy menjalani pekerjaan tersebut layaknya karyawan pada umumnya.
Seiring waktu, Wendy mulai mempertimbangkan untuk beralih profesi. Ia secara terbuka mengakui bahwa faktor penghasilan menjadi alasan utama dirinya meninggalkan dunia kerja kantoran dan memilih menjadi kreator konten. Menurut Wendy, keputusan tersebut diambil setelah menimbang mana jalur karier yang memberikan nilai lebih bagi dirinya.
Namun, peralihan profesi itu tidak serta-merta mendapat restu keluarga. Wendy mengungkapkan bahwa pada awalnya sang ibu tidak menyetujui pilihannya menjadi kreator konten karena jam kerja yang tidak menentu serta gaya berpakaian yang dinilai terlalu bebas. Bahkan, Wendy sempat menyembunyikan profesi barunya dengan berpura-pura berangkat dan pulang kerja seperti karyawan kantoran, padahal aktivitasnya dilakukan di studio.
Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut berubah. Wendy menyebut kini sang ibu telah mengetahui dan memahami pilihannya sebagai kreator konten. Dukungan keluarga pun perlahan datang setelah melihat keseriusan dan konsistensinya dalam menekuni profesi tersebut.
Popularitas Wendy mulai meningkat setelah sejumlah video cover dance yang ia unggah menarik perhatian publik. Sejak saat itu, kontennya berkembang ke berbagai aktivitas lain, termasuk olahraga seperti mendaki gunung, drifting, hingga lari. Fleksibilitas waktu menjadi salah satu keuntungan utama yang ia rasakan sebagai kreator konten.
Meski demikian, Wendy mengakui bahwa popularitas juga membawa tantangan tersendiri. Di balik citra ceria di depan kamera, ada kalanya ia merasa lelah harus selalu tampil bahagia. Kendati demikian, Wendy tetap mensyukuri pilihan karier yang telah ia ambil dan terus berupaya menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan tuntutan pekerjaan di dunia digital. (balqis)

















Tinggalkan Balasan