Media Kampung – 23 Maret 2026 | Empat spesies hewan menunjukkan kemampuan pendengaran yang melampaui batas manusia, menjadikannya subjek studi ilmiah dan inspirasi teknologi.
Manusia hanya dapat menangkap gelombang suara antara 20 Hz dan 20 kHz, rentang yang disebut audiosonik.
Beberapa mamalia, burung, dan reptil mampu mendeteksi frekuensi di luar batas tersebut, baik ke arah infrasonik di bawah 20 Hz maupun ultrasonik di atas 20 kHz.
Gajah Afrika menembus batas infrasonik dengan mendengar getaran serendah 5 Hz, sehingga dapat merasakan gempa bumi atau langkah kawanan di kilometer jauhnya.
Kemampuan ini membantu gajah berkoordinasi migrasi, memperingatkan bahaya, dan menjaga ikatan sosial tanpa harus melihat secara langsung.
Paus biru, mamalia laut terbesar, juga mengandalkan infrasonik, menghasilkan suara hingga 10 Hz yang menembus ratusan kilometer di lautan.
Suara berdurasi lama ini memungkinkan paus berkomunikasi lintas samudra, mengatur pertemuan kawanan, dan menavigasi lingkungan gelap.
Kelelawar pemakan serangga, khususnya famili Rhinolophidae, mengeluarkan pulsa ultrasonik sampai 110 kHz untuk membangun citra tiga dimensi melalui biosonar.
Setiap kali pulsa kembali, telinga kelelawar memproses selisih waktu dan intensitas, menghasilkan kemampuan mengidentifikasi mangsa sekecil serangga dalam kegelapan total.
Anjing domestik dapat mendengar frekuensi hingga 45 kHz, jauh di atas kemampuan manusia, sehingga dapat menangkap suara peluit atau alarm ultrasonik yang tidak terdengar oleh orang.
Sensitivitas ini memudahkan anjing dalam tugas pencarian, pelacakan, dan respons terhadap perintah suara yang halus.
Jika dibandingkan, rentang pendengaran gajah (5–14 kHz), paus biru (5–20 Hz), kelelawar (20–110 kHz), dan anjing (40–45 kHz) menegaskan keberagaman adaptasi akustik di alam.
Perbedaan utama terletak pada struktur koklea, sel rambut, dan ukuran telinga luar yang disesuaikan dengan frekuensi yang paling sering ditemui masing-masing spesies.
Paparan kebisingan manusia, seperti kapal laut atau sonar, dapat mengganggu komunikasi paus dan menurunkan efisiensi echolokasi kelelawar.
Oleh karena itu, regulasi kebisingan laut dan zona perlindungan menjadi langkah penting untuk melestarikan kemampuan pendengaran alami hewan ini.
Dr. Siti Rahma, ahli bioakustik Universitas Gadjah Mada, menekankan, “Kehilangan sensitivitas auditori pada hewan dapat mempengaruhi perilaku reproduksi dan kelangsungan hidup mereka.”
Penelitian tentang echolokasi kelelawar telah mendorong pengembangan sistem sonar miniatur untuk kendaraan otonom, sementara kemampuan infrasonik paus menginspirasi sensor deteksi gempa bumi jarak jauh.
Keempat hewan tersebut memperlihatkan bahwa pendengaran merupakan alat adaptasi vital, dan melindungi lingkungan akustik mereka tetap menjadi tanggung jawab bersama.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan