ASASSN-24fw peredupan 97 persen menjadi fenomena langka yang mengejutkan komunitas astronomi setelah bintang raksasa tersebut meredup drastis selama hampir sembilan bulan. Bintang yang berada sekitar 3.200 tahun cahaya dari Bumi di rasi Monoceros itu kehilangan hingga 97 persen kecerahannya, menyisakan hanya 3 persen dari cahaya normalnya.
Data pengamatan menunjukkan peredupan berlangsung selama kurang lebih 200 hari berturut-turut. Durasi ini menjadikannya salah satu peristiwa transit terpanjang yang pernah direkam dalam observasi modern.
ASASSN-24fw diketahui memiliki ukuran sekitar dua kali Matahari dan umumnya memancarkan cahaya stabil. Namun, anomali yang terjadi pada 2026 memperlihatkan penurunan intensitas cahaya secara ekstrem dan berkepanjangan.
Peneliti menduga penyebab utama peredupan bukanlah planet biasa, melainkan objek masif yang dikelilingi sistem cincin raksasa. Objek tersebut diperkirakan termasuk kategori brown dwarf atau super-Jupiter dengan massa minimal tiga kali Jupiter. Sistem cincin yang mengelilinginya membentang hingga sekitar 0,17 unit astronomi, hampir setengah jarak Matahari ke Merkurius.
Ketika objek bercincin itu melintas di depan bintang, cahaya ASASSN-24fw tertutup secara bertahap dalam waktu lama. Struktur cincin yang sangat luas diyakini menjadi faktor utama mengapa peredupan berlangsung hampir sembilan bulan.
Observasi lanjutan juga mengungkap keberadaan puing-puing yang diduga sisa tabrakan planet di sekitar sistem tersebut. Temuan ini cukup mengejutkan karena usia bintang diperkirakan telah melampaui satu miliar tahun. Secara teori, sistem bintang setua itu biasanya sudah relatif stabil dan minim material sisa pembentukan.
Keberadaan debu dan reruntuhan ini menunjukkan bahwa dinamika sistem bintang dapat tetap aktif dan tidak selalu stabil, bahkan setelah miliaran tahun. Para ilmuwan menilai temuan tersebut penting untuk memahami evolusi jangka panjang sistem planet dan interaksi gravitasi objek masif.
Setelah kecerahan bintang kembali normal, tim astronom merencanakan pengamatan lanjutan menggunakan James Webb Space Telescope dan Very Large Telescope di Chile. Pengamatan ini bertujuan menganalisis komposisi kimia cincin serta mengidentifikasi sifat dan asal-usul objek misterius tersebut.
Peneliti juga akan menyelidiki kemungkinan keberadaan bintang pendamping tipe red dwarf di sekitar sistem. Berdasarkan perhitungan awal, objek bercincin itu diperkirakan akan kembali melintas dalam siklus sekitar 42 tahun mendatang.
Fenomena ini dinilai membuka babak baru dalam studi interaksi antara bintang dan objek masif bercincin. Temuan lebih lanjut diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang kompleksitas dan dinamika sistem bintang di alam semesta.









Tinggalkan Balasan