Penemuan molekul organik di komet antarbintang 3I/ATLAS oleh teleskop luar angkasa SPHEREx membuka babak baru dalam riset asal-usul kehidupan. Misi kolaborasi antara NASA dan Korea Selatan itu mendeteksi senyawa penting seperti air, karbon dioksida, karbon monoksida, serta sianida melalui pengamatan mendalam pada Desember 2025.

Komet 3I/ATLAS merupakan objek antarbintang ketiga yang pernah teridentifikasi melintasi tata surya. Keberadaannya memberi kesempatan langka bagi ilmuwan untuk mempelajari secara langsung komposisi kimia dari sistem planet di luar lingkungan Matahari.

Objek tersebut pertama kali ditemukan pada Juli 2025 oleh sistem teleskop survei ATLAS milik NASA. Analisis lintasan orbit kemudian memastikan bahwa komet itu berasal dari luar tata surya. Observasi awal pada Agustus 2025 menunjukkan dominasi karbon dioksida dengan kandungan air relatif kecil.

Namun, perubahan signifikan terjadi ketika komet bergerak mendekati Matahari. Proses sublimasi—perubahan es menjadi gas akibat pemanasan—memicu peningkatan aktivitas kimiawi di permukaannya. Menariknya, lonjakan emisi material justru terjadi setelah komet melewati titik terdekatnya dengan Matahari atau perihelion. Pemanasan yang meresap ke inti komet membutuhkan waktu, sehingga efek paling kuat baru tampak dalam pengamatan lanjutan.

Kondisi tersebut membuat tingkat kecerahan sekaligus keragaman molekul yang terdeteksi meningkat pada Desember 2025. Spektrum inframerah yang ditangkap menunjukkan keberadaan molekul organik kompleks yang selama ini dikenal sebagai bahan dasar pembentuk kehidupan.

Peran SPHEREx menjadi kunci dalam temuan ini. Molekul seperti air dan karbon dioksida memancarkan radiasi inframerah yang sulit diamati dari permukaan Bumi karena terserap atmosfer. Dengan beroperasi di luar angkasa, teleskop ini mampu mengidentifikasi panjang gelombang spesifik secara presisi, sehingga pemetaan komposisi kimia komet dapat dilakukan dengan akurat.

Ke depan, tim peneliti berencana melanjutkan pengumpulan data untuk membandingkan karakteristik komet antarbintang dengan komet yang berasal dari tata surya. Studi jangka panjang ini diharapkan dapat memperdalam pemahaman mengenai proses pembentukan sistem planet ekstrasurya serta kemungkinan mekanisme penyebaran bahan pembentuk kehidupan di alam semesta.