Gerhana Matahari Total yang dijuluki sebagai fenomena “abad ini” dipastikan akan terjadi pada Senin (2/08/2027). Fenomena astronomi langka tersebut disebut istimewa karena memiliki durasi totalitas yang sangat panjang, mencapai 6 menit 23 detik, jauh melampaui rata-rata gerhana Matahari dalam beberapa dekade terakhir.

Durasi tersebut bahkan lebih lama dibandingkan Gerhana Matahari Total April 2024 yang hanya berlangsung sekitar 4 menit 28 detik. Lamanya waktu gerhana pada 2027 dipicu oleh keselarasan kosmik yang nyaris sempurna, di mana Bulan berada di titik terdekat dengan Bumi (perigee) sementara Matahari berada di titik terjauh dari Bumi (aphelion). Kondisi ini membuat piringan Bulan tampak lebih besar sehingga mampu menutupi Matahari secara penuh dalam waktu yang lebih lama.

Meski kerap disebut sebagai gerhana terlama abad ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena tersebut bukan pemegang rekor durasi terpanjang sepanjang abad ke-21. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Setyoajie Prayoedhie, menjelaskan bahwa rekor gerhana terlama masih dipegang Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009 dengan durasi 6 menit 39 detik.

Kendati demikian, Gerhana Matahari Total 2027 tetap memiliki keistimewaan tersendiri. Fenomena ini kerap dijuluki “Eclipse of the Century” karena lintasan gerhananya melintasi daratan yang sangat luas dan mudah diakses, terutama di wilayah Afrika Utara dan Jazirah Arab, seperti Mesir dan Luxor. Kondisi tersebut menjadikan gerhana ini sebagai peristiwa langka yang berpotensi hanya sekali disaksikan dalam seumur hidup manusia.

Lalu, apakah Gerhana Matahari Total 2027 bisa disaksikan dari Indonesia? BMKG menyebutkan, fenomena tersebut masih dapat diamati dari Tanah Air, namun hanya dalam bentuk Gerhana Matahari Sebagian. Wilayah Indonesia bagian barat dan utara menjadi kawasan yang berpeluang melihat fenomena ini, meski dengan tingkat penutupan Matahari yang relatif kecil.

Di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, penutupan Matahari dapat mencapai sekitar 37 persen, sehingga gerhana akan terlihat lebih signifikan. Sementara itu, di Jakarta, gerhana diperkirakan sangat tipis, kurang dari 1 persen, dan terjadi bertepatan dengan waktu matahari terbenam sekitar pukul 17.52 WIB, sehingga pengamatannya cukup sulit tanpa kondisi ufuk barat yang sangat bersih dan alat bantu optik. Adapun wilayah Indonesia bagian timur dipastikan tidak dapat menyaksikan gerhana tersebut karena sudah memasuki waktu malam saat puncak gerhana terjadi.

BMKG menjelaskan, ada tiga faktor utama yang membuat durasi Gerhana Matahari Total 2027 menjadi sangat panjang. Pertama, posisi Bulan yang berada di perigee sehingga tampak lebih besar. Kedua, posisi Bumi yang berada dekat aphelion sehingga Matahari tampak sedikit lebih kecil. Ketiga, lintasan gerhana yang melintasi wilayah dekat khatulistiwa, di mana kecepatan rotasi Bumi paling tinggi, sehingga bayangan Bulan bergerak lebih lambat di permukaan Bumi dan memperpanjang durasi kegelapan.

BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi visibilitas gerhana secara lebih rinci untuk setiap wilayah di Indonesia seiring mendekatnya hari kejadian. (balqis)