Jakarta – Penelitian terbaru mengungkap keberadaan massa air besar yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan Laut Atlantik, tepatnya di wilayah sekitar garis khatulistiwa. Massa air tersebut dikenal sebagai Atlantic Equatorial Water (AEW) dan baru dapat diidentifikasi setelah analisis mendalam terhadap data oseanografi jangka panjang.
AEW terungkap melalui peninjauan ulang data yang dikumpulkan selama lebih dari 20 tahun oleh program Argo, jaringan pelampung robotik global yang secara rutin merekam suhu dan tingkat salinitas air laut sejak akhir 1990-an. Analisis dengan metode terbaru memungkinkan para peneliti menemukan pola massa air yang sebelumnya luput terdeteksi.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan menduga adanya struktur air unik di kedalaman Samudra Atlantik. Namun, kemiripan karakteristik AEW dengan lapisan air di sekitarnya membuat massa air ini sulit dibedakan. Pelampung Argo yang mampu menyelam hingga kedalaman sekitar 2.000 meter akhirnya memberikan data rinci yang memungkinkan pemetaan suhu dan kadar garam di berbagai lapisan laut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Atlantic Equatorial Water berada di kawasan thermocline Laut Atlantik, yakni zona peralihan antara lapisan air hangat di permukaan dan air yang lebih dingin di kedalaman. Meski perbedaannya sangat halus, AEW memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya massa air terpisah.
Para peneliti menilai AEW berfungsi sebagai penyimpan panas, garam, serta gas terlarut. Peran tersebut menjadikan massa air ini penting dalam distribusi energi laut, pertukaran gas antarlapisan air, serta pembentukan pola iklim global.
Oseanografer dari Shirshov Institute of Oceanology di Moskow, Viktor Zhurbas, menjelaskan bahwa membedakan AEW dari massa air lain seperti South Atlantic Central Water bukan perkara mudah. Menurutnya, identifikasi baru bisa dilakukan dengan jaringan pengamatan suhu dan salinitas yang padat dan mencakup seluruh Samudra Atlantik, seperti yang disediakan oleh data Argo.
Penemuan Atlantic Equatorial Water dinilai krusial karena menutup celah pengetahuan yang selama ini menjadi teka-teki dalam studi oseanografi. Dengan terpetakannya AEW, struktur massa air di Samudra Atlantik kini dapat dibandingkan secara lebih seimbang dengan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
Selain itu, keberadaan massa air seperti AEW menegaskan bahwa laut tidak bersifat statis. Lapisan-lapisan air di kedalaman berperan aktif dalam pertukaran energi dan unsur kimia yang memengaruhi distribusi panas global serta kemampuan laut menyerap karbon.
Meski tidak kasatmata karena berada jauh di bawah permukaan laut, penemuan AEW menunjukkan bahwa masih banyak struktur penting di samudra dunia yang menunggu untuk dipahami. Penelitian jangka panjang dan teknologi pemantauan laut menjadi kunci untuk mengungkap dinamika tersembunyi yang berdampak besar bagi sistem iklim Bumi. (balqis)

















Tinggalkan Balasan