Media Kampung – 27 Maret 2026 | Jumat, 27 Maret 2026, umat Muslim di seluruh Indonesia memperingati Idul Fitri 1447 H dengan khotbah khusus yang menekankan nilai fitrah, maaf, dan persaudaraan.

Khotbah Idul Fitri tahun ini disusun oleh para ulama dan tokoh agama, termasuk Ketua YAPTINU Jepara, Prof. Dr. H. Shodiq Abdullah, M.Ag, yang menekankan pentingnya kembali kepada kesucian setelah Ramadan.

Menurut beliau, istilah ‘Idul Fitri’ berarti kembali kepada fitrah, yaitu keadaan suci yang mencakup kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam perilaku.

Dalam konteks tersebut, khutbah menekankan bahwa setiap Muslim harus menelusuri tiga unsur fitrah: berbuat benar, berbuat baik, dan berbuat indah.

Penekanan pada akhlak mulia didukung oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan memaafkan, menyambung silaturahmi, dan menolong sesama.

Khotbah juga mengutip ayat Al‑Qur’an Surah Ali Imran 133‑134, yang menyerukan umat bergegas kepada ampunan Allah, menafkahkan harta, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan.

Para imam Jumat di sejumlah masjid menambahkan pesan perdamaian, mengingatkan jamaah agar tidak terpecah belah, sejalan dengan tema khutbah jumat tentang perdamaian yang tersebar dalam media akhir pekan.

Pesan tersebut mencerminkan upaya agama untuk menanggulangi polarisasi sosial, khususnya menjelang hari raya ketika interaksi keluarga dan tetangga meningkat.

Khatib menekankan bahwa maaf harus melampaui sekadar kata, melibatkan tindakan konkret seperti menghubungi kembali kerabat yang terasing dan memberi bantuan kepada yang membutuhkan.

Sebagai contoh, dalam khutbah YAPTINU Jepara, beliau mencontohkan sikap memaafkan orang yang berbuat zalim dan memberi sesuatu kepada orang yang mengharamkan diri.

Khatib menutup khutbah dengan doa agar Allah memberikan petunjuk, rahmat, dan keberkahan kepada seluruh umat, serta menegaskan harapan bahwa silaturahmi terjalin kembali pasca Idul Fitri.

Reaksi jamaah menunjukkan antusiasme tinggi; banyak yang mengungkapkan niat memperbaiki hubungan keluarga dan lingkungan setelah mendengar pesan khutbah.

Seorang warga Jepara, Ahmad Zaky, menyatakan, ‘Saya akan mengunjungi saudara yang lama tak bertemu dan meminta maaf atas perselisihan lama,’ mencerminkan dampak langsung dari khutbah.

Pengamat agama, Dr. Siti Nurhaliza, menilai bahwa penekanan pada fitrah dan perdamaian dapat memperkuat kohesi sosial di masa pasca pandemi, dimana kebersamaan menjadi kebutuhan mendesak.

Dengan semangat Idul Fitri 1447 H, pesan khutbah mengajak umat menegakkan nilai-nilai moral, memperkuat ikatan sosial, dan menanti rahmat Allah dalam tahun yang baru.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.