Media Kampung – 26 Maret 2026 | Masjid Menara Kudus, yang juga dikenal sebagai Masjid Menara, berdiri di kota Kudus, Jawa Tengah, dan dibangun pada awal abad ke-16 sebagai simbol penyebaran Islam di tanah Jawa.

Keunikan utama bangunan ini terletak pada menara batu bata setinggi sekitar 20 meter yang menyerupai candi Hindu, menandakan warisan arsitektur pra‑Islamik yang dipertahankan.

Di dalam menara terdapat menara minaret kayu serta meriam kuning yang konon dicetak oleh Sultan Demak pada tahun 1550 sebagai simbol pertahanan dan otoritas.

Atap masjid ditutup dengan genteng terracotta berlapis pola khas, sementara dinding interior menampilkan ukiran Jawa bersanding dengan kaligrafi Arab, mencerminkan perpaduan estetika.

Mihrab menghadap Ka’bah namun dihiasi motif lotus dan kepala kala, unsur umum dalam arsitektur Hindu, menegaskan sinkretisme budaya.

Masjid ini didirikan oleh Sunan Kudus, salah satu Wali Songo, yang sengaja mengintegrasikan kepercayaan lokal untuk mempermudah proses Islamisasi.

Catatan sejarah mencatat masjid ini selamat dari gempa bumi dan intervensi kolonial berkat konstruksi batu bata yang kuat serta peran aktif masyarakat setempat.

Pada tahun 1995, Kementerian Kebudayaan melakukan restorasi menara, menjaga batu bata asli dan menambahkan atap pelindung guna mencegah kerusakan akibat air.

Saat ini, masjid berfungsi ganda sebagai tempat ibadah dan destinasi wisata budaya; ribuan jamaah mengunjungi pada peringatan Maulid Nabi dan bulan Ramadan.

Para pakar setempat menyatakan masjid ini merupakan contoh arsitektur Islam Jawa dengan jiwa Hindu, menyoroti warisan toleransi beragama di Indonesia.

Kompleks sekitarnya meliputi makam ulama Islam awal dan museum kecil yang memamerkan pintu kayu asli serta naskah Qur’an kuno.

Upaya pelestarian Masjid Menara Kudus menegaskan pentingnya melindungi situs warisan hibrida yang mencerminkan keberagaman sejarah Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.