Fidyah puasa Ramadan merupakan kewajiban yang berlaku bagi umat Islam yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa dan tidak memungkinkan untuk menggantinya di luar bulan Ramadan. Ketentuan fidyah puasa Ramadan ini menjadi solusi syariat sebagai bentuk tanggung jawab ibadah bagi golongan tertentu.

Istilah fidyah berasal dari kata fadaa yang bermakna menebus. Dasar hukumnya tercantum dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 184, yang memberikan keringanan bagi orang-orang tertentu untuk mengganti puasa dengan memberi makan kepada orang miskin.

Berdasarkan penjelasan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), fidyah puasa Ramadan wajib ditunaikan oleh beberapa kelompok. Mereka antara lain orang lanjut usia yang secara fisik tidak lagi mampu berpuasa, orang dengan penyakit berat yang kecil kemungkinan untuk sembuh, serta ibu hamil atau menyusui yang khawatir puasa dapat membahayakan kesehatan diri atau bayinya.

Pembayaran fidyah dilakukan sesuai jumlah hari puasa Ramadan yang ditinggalkan. Bentuk fidyah berupa makanan pokok yang layak konsumsi, kemudian disalurkan kepada fakir miskin sebagai pihak yang berhak menerima.

Dalam ketentuan fikih, terdapat perbedaan pendapat mengenai besaran fidyah. Mazhab Maliki dan Syafii menetapkan fidyah sebesar satu mud atau setara sekitar 0,75 kilogram makanan pokok per hari. Sementara itu, mazhab Hanafi menetapkan ukuran setengah sha atau sekitar 1,5 kilogram makanan.

Mazhab Hanafi juga membolehkan fidyah puasa Ramadan dibayarkan dalam bentuk uang, dengan nilai yang disesuaikan harga makanan pokok seperti beras atau kurma. Ketentuan ini memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menunaikan kewajiban fidyah.

Di Indonesia, besaran fidyah puasa Ramadan dalam bentuk uang telah ditetapkan secara resmi oleh BAZNAS. Untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, nilai fidyah ditetapkan sebesar Rp60.000 per hari per jiwa, menyesuaikan harga makanan pokok dan standar kelayakan konsumsi masyarakat setempat.(sy)