Banyuwangi – Perubahan pola komunikasi masyarakat di era digital mendorong dakwah untuk beradaptasi. Menjawab tantangan tersebut, Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi menggelar Academy of Digital Dai bagi alumni Sekolah Mubalig Muhammadiyah (SMM) dan anggota Majelis Tabligh se-Banyuwangi.
Pelatihan ini digelar Sabtu (17/1/2026) di SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi, dan diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai Pimpinan Cabang Muhammadiyah.
Academy of Digital Dai dirancang sebagai langkah strategis Muhammadiyah dalam merespons dinamika dakwah yang kini tidak lagi terbatas pada mimbar masjid. Media sosial dan platform digital menjadi ruang baru yang menuntut dai memiliki keterampilan komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sejak pagi, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, hingga sambutan pengantar.
Ketua Majelis Tabligh PDM Banyuwangi, Abdul Latif, dalam sambutannya menegaskan pentingnya literasi digital bagi dai Muhammadiyah.
Menurutnya, pesan Islam berkemajuan harus mampu hadir di ruang-ruang digital yang setiap hari diakses umat. Dakwah tidak cukup hanya disampaikan secara konvensional, tetapi juga harus mampu menyesuaikan dengan karakter audiens media sosial.
Di titik ini, penguasaan teknologi dipandang sebagai bagian dari ikhtiar dakwah, bukan sekadar pelengkap.
Materi pelatihan disusun bertahap dan aplikatif. Sesi pertama membahas manajemen konten digital serta strategi distribusi dakwah agar pesan dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui berbagai platform, seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube.
Materi berikutnya menitikberatkan pada teknik penulisan konten dakwah yang inspiratif, komunikatif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam serta paham Muhammadiyah. Peserta diajak memahami bagaimana pesan dakwah dapat dikemas secara ringkas tanpa kehilangan substansi.
Sesi ketiga mengulas teknik pembuatan video dakwah kreatif, mulai dari perencanaan ide, pengambilan gambar, hingga penyampaian pesan yang efektif.
Menariknya, peserta tidak hanya menerima teori. Mereka juga langsung diberi penugasan membuat konten video dakwah menggunakan perangkat masing-masing. Hasil karya kemudian direviu dan dievaluasi bersama, sehingga peserta memperoleh umpan balik konkret untuk meningkatkan kualitas konten.
Pendekatan ini membuat pelatihan terasa hidup dan relevan dengan kebutuhan dakwah di lapangan.
Secara keseluruhan, kegiatan berjalan lancar dan mendapat respons positif dari peserta. Academy of Digital Dai diharapkan mampu melahirkan dai-dai digital Muhammadiyah Banyuwangi yang adaptif, kreatif, dan siap menggerakkan dakwah Islam berkemajuan di ruang digital.
Bagi Muhammadiyah Banyuwangi, penguatan kapasitas dai di bidang digital menjadi bagian penting dalam menjaga eksistensi dakwah di tengah masyarakat modern yang kian akrab dengan teknologi.


















Tinggalkan Balasan