Media Kampung – 17 Maret 2026 | Azan Maghrib menandai berakhirnya siang dan awal petang, sekaligus menjadi penanda momen berbuka puasa bagi umat Muslim selama bulan Ramadan. Pada Senin, 16 Maret 2026, dua kota di Sulawesi – Polewali Mandar (Sulawesi Barat) dan Kendari (Sulawesi Tenggara) – memperlihatkan perbedaan beberapa menit dalam penetapan waktu azan maghrib, sesuai dengan perhitungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI.
Jadwal Azan Maghrib di Polewali Mandar
Di Polewali Mandar, azan maghrib berkumandang pada pukul 18.18 WITA. Waktu ini sekaligus menjadi jam resmi berbuka puasa bagi masyarakat setempat. Penetapan waktu tersebut didasarkan pada koordinat geografis kota serta perhitungan matahari terbenam yang akurat, sehingga umat dapat melaksanakan ibadah tepat waktu.
Jadwal Azan Maghrib di Kendari
Sementara itu, di Kendari azan maghrib terdengar lebih awal, pada pukul 18.06 WITA. Selisih 12 menit ini mencerminkan perbedaan letak geografis antara kedua kota, meski keduanya berada dalam zona waktu yang sama.
Perbandingan Waktu Azan Maghrib
| Kota | Waktu Azan Maghrib (WITA) |
|---|---|
| Polewali Mandar | 18.18 |
| Kendari | 18.06 |
Data di atas membantu warga menyesuaikan jadwal harian, terutama bagi yang menjalankan pekerjaan atau kegiatan belajar pada sore hari. Kesamaan dalam tata cara ibadah tetap terjaga, meski terdapat perbedaan menit.
Makna Spiritual di Balik Azan Maghrib
Azan maghrib tidak hanya menandai waktu berbuka, melainkan juga mengingatkan umat akan pentingnya menutup hari dengan rasa syukur. Surah Al‑Baqara ayat 183 menegaskan kewajiban puasa, dan azan maghrib menjadi momen menunaikan perintah tersebut dengan mengakhiri puasa hari itu.
Setelah azan, umat biasanya melaksanakan doa berbuka puasa. Doa yang sering dibaca adalah:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ ، وَبِكَ أَمَنَتُ ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Arab Latin: Allahumma laka shumtu wa bika amantu, wa ‘alaa rizqika afthartu, birah‑matik yaa arhamar raahimiin.Artinya: “Ya Allah, karena‑Mu aku berpuasa, kepada‑Mu aku beriman, atas rezeki‑Mu aku berbuka, dengan rahmat‑Mu, wahai Dzat yang Maha Pemurah.”
Doa ini diambil dari buku “Panduan Muslim Sehari‑hari” oleh Dr. KH M. Hamdan Rasyid MA dan ustaz Saiful Hadi El‑Sutha, serta didukung oleh riwayat Abu Dawud yang menekankan pentingnya berdoa setelah berbuka (dalam bahasa Arab: الدعاء عقب الفطر). Meskipun ada kebiasaan membaca doa sebelum berbuka, para ulama lebih menekankan pelaksanaan setelah berbuka sebagai bentuk kesempurnaan sunnah (Kamal al‑Sunnah).
Pengaruh Jadwal Azan Terhadap Kehidupan Sehari‑hari
Penetapan waktu azan maghrib yang akurat memberikan manfaat praktis. Bagi pekerja, pelajar, dan pengusaha, mengetahui dengan pasti kapan berbuka membantu mengatur istirahat, konsumsi makanan, dan persiapan sahur selanjutnya. Selain itu, restoran dan warung makan yang melayani buka puasa dapat menyesuaikan operasionalnya, menghindari kebingungan dan memastikan pelayanan tepat waktu.
Di era digital, aplikasi jadwal sholat dan website resmi Kementerian Agama menyediakan notifikasi otomatis, sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada pengamatan matahari secara manual. Namun, keberadaan jadwal resmi tetap penting sebagai rujukan utama.
Kesimpulan
Azan maghrib pada 16 Maret 2026 menandai perbedaan waktu berbuka antara Polewali Mandar (18.18 WITA) dan Kendari (18.06 WITA). Meskipun selisihnya hanya beberapa menit, keduanya mencerminkan ketelitian perhitungan astronomi yang mendukung pelaksanaan ibadah secara tepat. Doa berbuka puasa yang dibacakan setelah azan menegaskan nilai spiritual Ramadan, sekaligus menumbuhkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan. Dengan jadwal yang jelas, umat dapat menjalankan puasa dengan khusyuk, sekaligus menyesuaikan aktivitas harian demi kelancaran ibadah selama bulan suci ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








