Media Kampung – 28 Maret 2026 | Banjir yang melanda Dusun Bandaran, Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan terus berlanjut meski musim hujan hampir berakhir. Air sungai Rejoso belum kembali ke level normal, sehingga banyak rumah masih terendam.

Kondisi ini menimbulkan penempatan sementara warga di tenda pengungsian yang dikelola Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Hingga kini lebih dari puluhan keluarga tetap berada di lokasi tersebut.

Kusen, seorang kepala keluarga, melaporkan bahwa rumahnya masih berada di dalam air. Ia bersama istri dan tiga anak menghabiskan malam di tenda BPBD sejak akhir pekan lalu.

“Setiap musim hujan kami terpaksa menginap di tenda BPBD,” ujar Kusen pada Sabtu (28/3). Ia menambahkan bahwa tidak ada tanda‑tanda penurunan air dalam beberapa hari terakhir.

Warga lain, Subhekan, menjelaskan bahwa ia harus menjaga rumah‑rumah yang masih terendam agar tidak mengalami kerusakan lebih lanjut. Ia berkeliling bersama beberapa tetangga untuk memeriksa kondisi atap dan dinding.

“Saya dan warga lainnya tetap berjaga agar rumah kami tetap aman,” kata Subhekan. Ia menegaskan bahwa tugas tersebut dilakukan meski kondisi cuaca masih tidak menentu.

Penyebab utama banjir tahunan di wilayah ini adalah luapan air sungai Rejoso yang meluap akibat curah hujan tinggi di daerah hulu. Topografi daerah yang berada di bawah permukaan sungai memperparah dampak banjir.

Dibandingkan desa sekitarnya, Dusun Bandaran mengalami masa genangan yang lebih lama karena letaknya lebih rendah. Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa aliran sungai tetap tinggi selama tiga minggu terakhir.

Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah mengerahkan tim teknis untuk melakukan pemompaan air secara berkala. Namun, proses tersebut masih terbatas oleh kapasitas pompa dan akses jalan yang terganggu.

BPBD menegaskan bahwa tenda pengungsian sudah dilengkapi dengan perlengkapan dasar seperti matras, selimut, dan peralatan sanitasi. Bantuan makanan dan air bersih juga disalurkan setiap hari.

Meskipun bantuan terpenuhi, banyak warga mengaku kesulitan karena biaya hidup di tenda lebih tinggi daripada di rumah. Harga bahan makanan naik akibat pasokan yang terbatas.

Subhekan mengungkapkan bahwa ia ingin pindah ke daerah yang tidak rawan banjir, tetapi biaya pembangunan rumah baru mencapai ratusan juta rupiah. “Tidak mampu membeli rumah di lokasi aman,” ujarnya.

Kusen menambahkan bahwa bantuan pemerintah belum cukup untuk menutupi kerugian properti. Ia berharap ada program relokasi yang lebih konkret.

Pemerintah provinsi Jawa Timur melalui Dinas Sosial menyiapkan dana bantuan sosial untuk korban banjir. Namun, proses penyaluran masih dalam tahap verifikasi data keluarga.

Aktivitas ekonomi warga, terutama petani padi, terganggu karena lahan pertanian terendam selama lebih dari dua minggu. Tanaman yang sudah menancap kini berisiko gagal panen.

Ahli hidrologi dari Universitas Brawijaya menjelaskan bahwa pola curah hujan ekstrem semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Ia menyarankan peningkatan infrastruktur drainase di daerah rawan.

Pemerintah Kabupaten Pasuruan berencana melakukan perbaikan bendungan kecil di hulu sungai Rejoso pada akhir tahun ini. Proyek tersebut diharapkan dapat mengurangi intensitas luapan air.

Sementara itu, warga diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas BPBD. Peringatan banjir masih berlaku sampai level air turun signifikan.

Kondisi kesehatan di tenda juga menjadi perhatian, mengingat kepadatan penghuni dan kurangnya fasilitas medis. Tim medis mobil BPBD rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.

Hingga kini, belum ada perkiraan pasti kapan semua rumah akan bebas banjir. Pihak berwenang menegaskan bahwa proses pemulihan memerlukan waktu dan koordinasi lintas sektor.

Situasi ini menyoroti kebutuhan akan kebijakan jangka panjang yang memperhitungkan risiko banjir berulang. Penduduk berharap solusi yang lebih permanen dapat segera diwujudkan.

Secara keseluruhan, banjir di Dusun Bandaran tetap menjadi tantangan utama bagi Pasuruan, dengan ribuan warga menunggu perbaikan kondisi hidup yang layak. Warga terus bertahan di tenda sambil menanti air surut dan bantuan lebih lanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.