Media Kampung – 24 Maret 2026 | Masduki, seorang warga asli Bangil, resmi menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Pasuruan pada November 2024. Penunjukan ini menandai kembalinya putra daerah ke tanah kelahiran setelah meniti karier di wilayah Aceh.

Sebelum kembali, ia mengemban posisi Kasubag Bantuan Hukum dan HAM di Lhokseumawe serta memimpin BNN Banda Aceh. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika peredaran narkoba di daerah rawan.

Aceh dikenal sebagai jalur strategis perdagangan narkoba internasional karena kedekatannya dengan Malaysia, Thailand, dan Singapura. Rute laut yang melintasi Selat Malaka memungkinkan alur barang narkotika masuk dengan volume besar.

Masduki menegaskan, “Wilayah Aceh memang jalur strategis, tantangannya besar, jaringan pengedar canggih dan bahkan dipersenjatai.” Pernyataan itu mencerminkan kompleksitas operasi lintas negara yang harus dihadapi aparat.

Sebagai kepala BNNK Pasuruan, ia mengawasi wilayah yang meliputi Pasuruan Raya hingga Probolinggo Raya dengan jumlah personel yang terbatas. Pendekatan yang diambil harus efisien mengingat sumber daya manusia yang tidak sebanding dengan luas area.

Karakteristik masyarakat Pasuruan lebih heterogen dibandingkan Aceh, mencakup populasi urban, pedesaan, serta komunitas pelajar yang dinamis. Keragaman tersebut menuntut strategi penanggulangan yang fleksibel dan sensitif terhadap konteks lokal.

Masalah narkoba di Pasuruan tidak hanya menyasar warga umum, melainkan juga kalangan pelajar yang semakin terpapar. Data kepolisian menunjukkan peningkatan kasus penyalahgunaan di sekolah menengah pada tahun terakhir.

Faktor utama yang mendorong penggunaan adalah pengaruh teman sebaya dan rasa ingin tahu yang tinggi. Kondisi sosial ini memperparah risiko penyebaran zat terlarang di lingkungan pendidikan.

Masduki menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak, termasuk keluarga, institusi pendidikan, dan organisasi masyarakat. Ia menolak pandangan bahwa pertempuran melawan narkoba hanya tugas BNN semata.

“Kami butuh dukungan semua pihak untuk menekan peredaran narkoba di Pasuruan,” tegasnya dalam konferensi pers hari Selasa. Pesan itu diarahkan kepada pemerintah daerah, LSM, serta warga yang menjadi garda depan.

Sebagai bagian dari misi kembali ke kampung halaman, Masduki menargetkan terbentuknya Desa Bersinar, yakni desa bebas narkoba. Inisiatif ini diharapkan menjadi contoh konkret dalam menurunkan angka peredaran dan penyalahgunaan.

Strategi tidak hanya berfokus pada penindakan, melainkan juga pada program rehabilitasi bagi pecandu. Pendekatan holistik ini mencakup layanan konseling, pelatihan keterampilan, dan reintegrasi sosial.

Kerjasama dengan sekolah, lembaga keagamaan, serta pemerintah desa direncanakan untuk menyebarluaskan edukasi anti‑narkoba. Program penyuluhan akan dilaksanakan secara periodik dengan materi yang disesuaikan pada kelompok usia masing‑masing.

Jika berhasil, diharapkan terjadi penurunan signifikan dalam jumlah pengguna serta peningkatan rasa aman di lingkungan masyarakat. Indikator keberhasilan akan dipantau melalui survei persepsi warga dan data penangkapan narkoba.

Namun, tantangan tetap ada, antara lain keterbatasan personel, jaringan pengedar yang semakin terorganisir, serta kebutuhan pendanaan berkelanjutan. Mengatasi hal ini memerlukan sinergi antara aparat, sektor swasta, dan donor internasional.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta Badan Narkotika Nasional telah menyatakan komitmen menyediakan logistik dan dukungan operasional. Langkah tersebut diharapkan memperkuat kapasitas BNNK Pasuruan dalam melaksanakan tugasnya.

Dengan pengalaman Aceh dan fokus pada desa bersih narkoba, Masduki berupaya mengubah lanskap peredaran zat terlarang di Pasurian. Keberhasilan program akan menjadi tolok ukur bagi daerah lain yang menghadapi permasalahan serupa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.